Arsip

Arsip Bulanan: Juli 2010

Judul Asli: Rasysyul barad Syarh Al Adabil  Mufrod
Penulis: Syaikh Abu Abdillah Muhammad Luqman As Salafi
Fisik: buku ukuran sedang, hardcover.614 hal
Penerbit: Griya Ilmu
Harga: Rp 100.000,-
Pemesanan: 0817 250 686

Kitab al-Adabul Mufrod dan Arti Penting Mempelajarinya. Di antara kitab tersebut adalah kitab al-Adabul Mufrad karya Amirul Muvminin fil Hadits, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari -rahimahulloh-  (penulis kitab at-Tarikhul Kabir, al-Jami’ush Shahihil Musnad min Haditsi Rasulillah -Sholallahu Alaihi Wassalam-  yang populer dengan judul Shahih al-Bukhari dan berbagai kitab yang sarat faedah lainnya). Dalam kitab tersebut, al-Bukhari telah mengumpulkan berbagai (hadits Nabi  yang menggambarkan berbagai bentuk) sifat dan adab terpuji yang sangat dibutuhkan pribadi muslim ketika bermukim dan bepergian, atau adab yang dibutuhkan ketika berada di tengah keluarga dan tetangga serta segala sesuatu yang erat kaitannya dengan kekerabatan dan kemasyarakatan.
Penulis kitab Fadhlullahish Shamad mengatakan, “Kitab al-Adabul Mufrad karya Amirul Mukminin fil Hadits, pakar ‘ilal (cacat yang tersembunyi dalam hadits) di masa dulu dan sekarang, penjaga Islam dan kaum muslimin, pemuka para ahli hadits, al-Imamul Himam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari semoga Allah melimpahkan karunia kepada-Nya, rnerupakan salah satu karya yang sangat bermanfaat. Tidak ada kitab yang serupa dengan kitab yang berukuran kecil dan bermuatan ilmu yang melimpah ini. Kitab ini menghimpun berbagai riwayat seputar adab dan akhlak mulia yang berasal dari Nabi -, para pemuka Shahabat dan para ulama. Kitab ini rnerupakan salah satu karya terbaik yang pernah ditulis, disusun dengan sangat sistematis serta sangat layak dipelajari. Akan tetapi, seorang penuntut ilmu mestilah tergolong cerdas, terkadang tidak mampu mengetahui kedudukan kitab ini dan hanya sedikit yang mampu memetik berbagai hikmah dan mutiara berharga yang terkandung di dalamnya.

Inilah Edisi terjemah dari Rasysyul barad Syarh Al Adabil  Mufrod, sebagai penjelas dari kitab adabul mufrod Imam al Bukhari, yg ditulis oleh Syaikh Abu abdillah Muhammad Luqman As Salafi, salah satu murid Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahulloh- , yang saat ini ada di Jumiah Al Imam Ibnu Taimiyah dan markaz dakwah Al Allamah Ibnu Baaz Lid Dirasatil Islamiyyah, As Salam, India.

Tafsir As-Sa’dy [Juz 28-30]
Judul asli : Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan ( juz 28-30)
Penulis : Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di -rahimahulloh-
Fisik : buku ukuran sedang, hardcover, 628 hal
Penerbit : Pustaka Afiyah
Harga: Rp 135.000,-
Pemesanan : 0817 250 686

Di antara karangan-karangan dalam bidang tafsir yang diakui dan dipuji oleh para ulama pada zaman sekarang ini, memperoleh ketenaran yang begitu luas dan ditakdirkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mendapatkan tempat yang cukup baik dalam hati kaum muslimin yaitu tafsir syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di yang meninggal pada tahun 1376 H, hal ini disebabkan karena keistimewaan bukunya tersebut dalam beberapa hal:
Pertama: Kesungguhan penulis dalam membuat tafsirannya ringkas hanya sebatas makna global, di mana mayoritas penafsir al-Qur’an itu tidak lepas membahas secara panjang lebar bahkan hingga menyimpang dari topik tafsirannya dari kitabullah, atau mereka membatasi diri membahas makna-makna bahasa atau fiqhiyah saja, maka beliau menghendaki dalam tafsirannya itu untuk membahas makna yang dimaksudkan oleh ayat sedangkan lafazhnya hanya sebagai jembatan baginya agar manusia dapat mengetahui makna firman Allah hingga mereka dapat mengambil petunjuk dari pengetahuan tentangnya, dan berakhlak dengan akhlaknya dan adab-adabnya dengan memakai metode yang paling mendekati. Kedua: Pilihan-pilihan syaikh yang dihasilkan oleh kecerdikan akalnya, kejernihan hatinya, kecepatan pikirannya terhadap perkataan-perkataan para salaf dari para sahabat ,para tabi’in dan para ulama umat yang disebutkan dalam tafsir, sehingga beliau seolah-olah mengumpulkan perkataan dan pendapat yang muncul dalam tafsir makna ayat kemudian beliau mengungkapkannya dengan gaya bahasa yang telah diketahui.
Ketiga: Tafsir beliau diistimewakan juga dengan kata-katanya yang sederhana dan penjelasannya yang mudah dimengerti, yang tidak dipaksa-paksakan dan tidak ruwet, juga tidak bertele-tele dan memanjang-manjangkan, yaitu dengan suatu gaya yang dapat di-pahami oleh orang yang berilmu maupun yang tidak.
Keempat: Penyusunan kalimat yang begitu rapi dan mengaitkan suatu kalimat dengan kalimat yang lain yang sesuai tanpa ada kesusahan dalam merangkai ungkapannya, dan inilah suatu hal yang paling menonjol dari tafsir beliau
Kelima: Buku ini mengandung banyak faedah ilmiah dan pendidikan yang disarikan dari kitabullah yang dijelaskan oleh penulis di sela-sela pembahasannya terhadap tafsir ayat, faedah-faedah itu sangatlah beragam baik dari segi tauhid, fikih, sirah, nasihat-nasihat, akhlak dan lain-lainnya.
Keenam: Inilah keistimewaan yang terpenting adalah terhindarnya buku tafsir ini dari takwil-takwil yang keliru, hawa nafsu, bid’ah, dan Israiliyat.- Pengarangnya bersandar dari teks-teks al-Qur’an dan as-Sunnah, dan beliau juga mengikuti riwayat-riwayat yang disebutkan dari as-Salaf ash-Shalih.
Syaikh al Utsaimin -rahimahulloh- berkata “sesungguhnya tafsir syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di  yang berjudul “Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan”, adalah sebaik-baik tafsir, karena memiliki keistimewaan yang banyak; di antaranya adalah gaya bahasa yang sederhana dan jelas yang dapat langsung dimengerti oleh orang yang berilmu maupun yang bodoh. Keistimewaan lainnya adalah menghindari kalimat-kalimat sisipan dan bertele-tele yang tidak ada manfaatnya kecuali hanya akan membuang-buang waktu pembaca dan membingungkan pikirannya. Yang lainnya adalah menghindari penyebutan perselisihan pendapat kecuali perselisihan vang mendasar yang harus disebutkan, dan yang terakhir ini adalah keistimewaan yang paling penting bagi pembaca budiman hingga pemahamannya hanya terfokus pada satu hal saja. Keistimewaan lain adalah berjalan di atas manhaj salaf pada ayat-ayat sifat yang tidak ada penyimpangan dan tidak ada takwil yang bertentangan dengan maksud Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  dalam firmanNya, dan itulah patokan dalam pengukuhan akidah.
Keistimewaan lain adalah keterincian pengambilan kesimpulan yang ditunjukkan oleh ayat-ayat berupa faedah, hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya, hal ini sangatlah nampak jelas dalam beberapa ayat, seperti ayat wudhu dalam surat al-Maidah, di mana ia me-ngambil kesimpulan darinya sebanyak lima puluh hikmah, sebagai-mana juga dalam kisah Daud dan Sulaiman dalam surat Shad.
Untuk itu saya ( Al Utsaimin -rahimahulloh- )  memberi saran kepada orang-orang yang hendak memiliki buku tafsir agar tidak ketinggalan untuk mengoleksi perpustakaannya dengan buku tafsir yang indah ini.”

Al Majmu Syarh Al Muhadzdzab [ jilid 3]
Judul asli : Al Majmu Syarah Al Muhadzdzab
Penulis : Imam An Nawawi -rahimahullah-
Fisik : buku ukuran sedang (p=23,5 cm), Hardcover, 1004 hal
Penerbit : Pustaka Azzam
Harga: Rp197.000,-

Pemesanan : 0817 250 686

Kitab Al Majmu karya An-Nawawi merupakan referensi fikih terbesar madzhab Asy-Syafi’i secara khusus dan fikih Islam secara umum. Selain  juga merupakan bagian dari kekayaan klasik Islam yang murni dan sok khazanah fikih perbandingan. Kitab yang sangat monumental ini memiliki karakter khusus yang membuatnya berbeda dari segi metodologi ilmu yang akurat, sehingga membuatnya berada di tempat teratas dibanding ensklopedi-ensiklopedi fikih lainnya, baik klasik maupun kontemporer.
Tidak diragukan lagi, kitab Al Majmu’ merupakan khazanah terbesar  bidang fikih Islam yang isinya menjelaskan konsep-konsep dasar dari hukum Islam yang membuat para ulama setelahnya kagum.

Orang yang pernah mengkaji kitab-kitab induk terbesar dalam fikih Islam di berbagai madzhab, seperti Al Muhalla karya Ibnu Hazm, Al Umm karya Asy-Syafi ‘i, AlMughni karya Ibnu Qudamah dalam fikih madzhab Hanbali dan kitab AlMabsuth karya As-Sarkhasi, akan menemukan bahwa kitab Al Majmu’ karya An-Nawawi merupakan salah satu referensi terbesar yang penuh dengan pendapat-pendapat fikih keempat imam madzhab dan lain-lainnya, sekalipun fokus pembahasannya di tingkat pertama khusus tentang fikih Asy-Syafi’i.
Kitab Al Majmu ‘ berbeda dari kitab-kitab fikih induk lainnya, dimana cakupan isinya memuat seluruh pendapat-pendapat madzhab berikut dalil dalilnya disamping menyebutkan pentarjihan diantara pendapat-pendapat ini. Tak ada yang paling menunjukkan keluasan wawasan An-Nawawi dan kedalaman ilmunya selain dari penjelasannya terhadap isi kitab Al Muhadzdzab karya Asy-Syirazi yang berjumlah sekitar 120 halaman menjadi 9 jilid kitab Al Majmu’. Namun sayangnya ia meninggal dunia lebih cepat sebelum sempat menyelesaikan Syarh Al Muhadzdzab berdasarkan methodologi ilmiah yang telah ia tetapkan dan dipegangnya, Dari pen-takkrij-an hadits-hadits hukum, penjelasan maknanya, penyebutan seluruh pendapat para imam dari kalangan ahli fikih dan pentarjihan diantara pendapat-pendapat tersebut serta madzhab-madzhab mereka, penjelasan kecacatan hadits, status hadits dan biografi para perawinya, penafsiran kalimat-kalimat yang langka dari Al Qur’an dan hadits serta penjelasan kosa kata yang terdapat dalam redaksi kitab Al Muhadzdzab, membuat kitab Al Majmu’ benar-benar merupakan ensiklopedi umum dalam bidang fikih, hukum, tafsir ayat-ayat Al Qur’an dan hadits, keunikan bahasa serta biografi para ulama terkemuka dari kalangan perawi dan ahli hadits.
Namun, An-Nawawi -rahimahullah-  meninggal sebelum menyelesaikan kajian ilmiyahnya dalam menguraikan kitab Al Muhadzdzab pada abad ketujuh Hijriyah karena ia meninggal dunia lebih awal pada tahun 676 H setelah memenuhi dunia dengan ilmu dan karya tulis, maka selanjutnya tugas mulia ini diambil alih oleh salah seorang ulama terkemuka, yaitu Taqiyuddin As-Subki, seorang Syaikhul Islam di masanya. Ia dilahirkan di desa Subuk dari wilayah kabupaten Monofia pada tahun 683 H dan wafat pada tahun 756 H.
An-Nawawi adalah kebanggaan ulama Syam. Begitu pula dengan As-Subki, dia adalah kebanggaan bagi bangsa Mesir dan salah juga ulamanya. Sang imam yang handal dalam bidang fikih ini menyelesaikan bagian pertama Syarh Al Muhadzdzab dari akhir syarah An-Nawawi pada awal bab mu ‘amalat. Selain itu, ia mengikuti metodependahulunya  dalam menjelaskan kitab Al Muhadzdzab karya Asy-Syirazi. , ia meninggal dunia lebih awal setelah menyelesaikan tiga jilid dari kitab Al majmu’ sehingga jumlah keseluruhannya menjadi 12 jilid. Setelah itu
warisan Islam ini selama hampir 6 abad tetap menjadi manuskrip-manuskrip arkeologi di perpustakaan umum Timur dan Barat. Sebagiannya di Turki, sebagiannya  di Eropa dan sebagian lainnya di perpustakaan Mesir. Kitab ini menjadi  harta simpanan terpendam yang tidak mendapatkan perhatian para ahli fikih selama 6 abad. Kecuali sedikit penjelasan (syarah) dari Ibnu Ar Rakbi atas isi Al Muhadzdzab.
Kemudian Alloh Azza wa Jalla menizinkan kitab ini lepas dari “kurungan” perpustakaan dan menuju dunia penerbitan hingga para Ahli Fiqih dapat memanfaatkannya dan para praktisi hukum bisa mengambil isinya. Lalu Alloh Azza wa Jalla  mengirimkan beberapa ulama yang sangat menaruh perhatian besar terhadap kekayaan peninggalan Islam untuk memberikan tahqiq dan ta’liq-nya.

Tafsir Adhwa’ul Bayan [ Jilid 6]: Tafsir Al Quran dengan Al Quran
Judul asli : Adwa’u Al Bayan fi Idhah Al Qur’an bi Al Qur’an
Penulis : Al Allamah Asy Syaikh Al  Mufasir Muhammad Amin Asy Syanqithi -rahimahullah-
Fisik : Buku ukuran sedang (p=23,5 cm), Hardcover, 926 hal
Penerbit: Pustaka Azzam
Harga: Rp 189.000
Pemesanan : 0817 250 686

Inilah jilid ke-enam dari rangkaian Kitab terjemah tafsir Adwaul Bayan, sebuah kitab tafsir yang ditulis oleh Al Allamah Al Mufasir Syaikh Muhammad Amin Asy Syanqithi -rahimahullah-  salah satu ulama ahli tafsir abad ini dan guru dari sekian  banyak ulama Ahlus Sunnah zaman ini, Guru dari ; Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz -rahimahullah- Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah- , Syaikh Shalih bin Fauzan Al fauzan, dan banyak ulama lainnya yang mengambil manfaat ilmu dari beliau -rahimahullah- . Kelebihan kitab tafsir ini diantaranya :

  1. Menjelaskan makna ayat Al Qur’an dengan ayat Al Qur’an (Qur’an bil Qur’an). al ini sesuai dengan kesepakan para ulama yang menyebutkan bahwa tafsir yang paling mulia dan utama adalah menafsirkan ayat-ayat Kitabulloh dengan menggunakan (ayat0ayat lainnya) Kitabulloh. Sebab, tidak ada seorangpun yang lebih tahu makna Kalamulloh kecuali kecuali Alloh Azza wa Jalla sendiri. Dalam kitab ini penulis berkomitmen untuk menjelaskan Al Qur’an kecuali dengan menggunakan qiroah sab’ah (7 cara membaca Al Qur’an).
  2. Menjelaskan hukum-hukum yang terkandung dalam semua ayat yang dijelaskan dalam kitab ini yang disandarkan kepada dalil-dalil shahih dari Sunnah Nabwiyyah dan pendapat para ulama , kemudian dipilihkan  pendapat yang terkuat tersebut tanpa rasa  fanatik madzab.
  3. Dilengkapi  penjelasan tambahan. seperti contohnya pembahasan tentang beberapa masalah kebahasaan (Lughoh) dan hal-hal yang dibutuhkannya seperti sharaf (pembahasan tentang perubahan suatu kata) dan I’raab ( pembahasan tentang kedudukan kata dalam suatu kalimat), penyebutan syair-syair arab sebagai penguat serta analisis terhadap masalah-maslah yang dibutuhkan dalam menafsirkan sebuah ayat seperti masalah ushuliyah (yang pokok) dan Kalam (akidah) yang dilandasi sanad-sanad hadits.

Tidak diragukan lagi bahwa kitab Shahih Al  Bukhari merupakan kitab hadits paling otentik di muka bumi ini. Penulisnya, Imam al-Bukhari -rahimahulloh- , hanya mencantumkan hadits-hadits shahih di dalamnya dengan syarat-syarat periwayatan (yang begitu ketat. Bahkan, untuk memantapkan pilihannya beliau tidak segan-segan untuk shalat Istikharah dua rakaat setiap akan mencantumkan haditsnya di kitabnya itu sebagai bukti keseriusan dan pertanggungjawaban beliau di hadapan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala . Maka sangatlah wajar apabila kitab ini dinobatkan sebagai kitab yang kandungannya paling otentik setelah kitab suci al-Quran. Dan, pantaslah kiranya setiap usaha untuk melemahkan kitab ini selalu terbantahkan.

Ribuan hadits terkandung di dalamnya. Beberapa di antaranya sangat sulit bagi orang awam untuk memahami maknanya, lebih-lebih menyelaminya. Padahal, dari awal sampai akhir, kitab ini menyuguhkan banyak sekali pelajaran dan faedah yang sangat berguna bagi kehidupan seorang Muslim dan umat manusia secara keseluruhan. Tidak hanya dalam masalah’aqidah dan ibadah, juga ke masalah etika/adab, sosial, politik, , dan lain sebagainya.Tentunya dalam koridor Sunnah Nabawiyyah
Demikian pula dengan Kitab Shahih Muslim  adalah salah satu dari kitab yang paling sahih setelah al-Qur’an, selain Shahih Al Bukhari.
Imam Muslim -rahimahullah-  sangat teliti dalam mempelajari para rawi, menyeleksi yang diriwayatkan, dan membandingkan antara riwayat yang satu dengan lainnya, meneliti susunan lafaznya dan memberikan petunjuk bila terdapat perbedaan pada lafaz-lafaz itu. Dari usaha ini menghasilkan kitab sahih yang menjadi rujukan bagi para peneliti dan para ulama.
Imam Muslim -rahimahullah-  menyaring hadis yang dimasukkan dalam kitabnya itu dari ribuan hadis yang telah didengarnya. Dia pernah berkata: ‘Aku menyusun kitab sahih ini hasil dari 300.000 hadis.”
Kitab sahih ini adalah hasil dari kehidupan yang penuh berkah, yang ditulis di mana saja ia berada, baik dalam waktu sempit maupun lapang. Dia mengumpulkan, menghafal, menyaring dan menulis sehingga menjadi sebuah kitab sahih yang sangat baik dan teratur. Dia dan beberapa muridnya menyelesaikan penyusunan kitab sahih itu dalam waktu lima belas tahun. Ahmad bin Salamah -rahimahullah-  mengatakan: “Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab sahih itu selama lima belas tahun. Kitab itu berisi 12 000 hadis.
Kita tidak perlu heran bila Imam Muslim  -rahimahullah-  sangat bangga dengan kitab sahihnya itu. Dia pernah berkata sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat Allah yang diterimanya, “Apabila penduduk bumi ini menulis hadis ini selama 200 tahun, maka mereka hanya berputar sekitar kitab ini saja.”
Sebagian ulama Ahli Hadits mengatakan bahwa kitab Shahih Muslim  lebih baik jika dilihat dari segi sistematika penyusunan bab dan lebih mudah difahami sehingga membantu para penuntut ilmu dalam memahami ilmu agama ini.,
Dan termasuk di antara keutamaan Shahih Muslim adalah apa yang disampaikan oleh Makkiy bin Abdan -rahimahullah- , salah satu huffazh dari Naisabur, ia berkata, “Saya telah mendengar Muslim bin Al-Hajjaj berkata, “Seandainya para ahli hadits menulis selama dua ratus tahun, maka tulisannya itu akan berkisar pada musnad ini” yakni Shahih Muslim. la melanjutkan, “Dan saya telah mendengar Muslim mengatakan, “Suatu ketika saya memperlihatkan kitabku ini kepada Abu Zar’ah Ar-Razi, maka setiap : isyaratkan oleh beliau bahwa dalam hadits tersebut ada illat (cacat) segera saya tinggalkan, dan setiap hal yang beliau komentari bahwa  itu adalah shahih serta tidak memiliki Illat maka saya takhrij.” [lihat siyar alam nubala : 12/568).
yang lainnya menyebutkan, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu  Bakar Al-Khathib Al-Baghdadi (lihat : tarikh al baghdad: 13/101),dengan isnadnya yang dari Muslim Rahimahullah, ia berkata, "Saya telah menyusun Shahih ini berupa 300.000 (tiga ratus ribu) hadits yang saya dapat dari mendengar (sima')."

Inilah terjemah dari kedua kitab induk hadits edisi lengkap [ bukan ringkasan], yang ditahqiq oleh Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi -rahimahulloh- .

 Shahih Bukhari [ jilid 1]
Judul asli : Shahih Al Bukhari
Penulis : Imam Muhammad bin Ismail Al Bukhari -rahimahulloh-
Fisik : Buku ukuran sedang 16×25 cm, hardcover, 1040 hal
Penerbit : Pustaka As Sunnah
Harga Rp  195.000


Shahih Muslim [ jilid 1]
Judul asli ; Shahih Muslim
Penulis : Abu Al Husein Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi -rahimahulloh-
Fisik : Buku ukuran sedang 16×25 cm, hardcover, 880 hal
Penerbit : Pustaka As Sunnah
Harga Rp  160.000

Pemesanan : 0817 250 686

Musnad Imam Ahmad [jilid 10]
Judul asli : Musnad lil Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
Penulis : Imam Ahmad bin hanbal -rahimahullah-
Takhrij hadits : Syaikh Al Muhadits Ahmad Muhammad Syakir -rahimahullah-
Fisik : buku ukuran sedang 15×23.5 cm, Hardcover
Penerbit: Pustaka Azzam
Harga:
Rp 189.000,-
Pemesanan : 0817 250 686

Musnad adalah kitab yang berisi kumpulan hadits yang  tidak diurut berdasarkan urutan bab-bab fiqih namun dikelompokkan/diurutkan  menurut setiap Shohabat rodliallohu anhum , baik hadits shahih, hasan atau dhaif. Urutan nama-nama para Shohabat didalam musnad kadang berdasarkan huruf hijaiyah atau alfabet sebagaimana dilakukan oleh ulama dan ini yang paling mudah, kadang juga berdasarkan pada kabilah dan suku, atau berdasarkan yang paling dahulu masuk Islam, atau berdasarkan negeri (asal).
Kitab hadits yang berbentuk musnad cukup banyak. Al Killani dalam kitabnya Ar Risalah Al Musthatharafah menyebutkan jumlahnya sebanyak 82 Musnad, diatara yang paling terkenal yaitu : Musnad karya Imam Abu Daud, Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad karya Imam Abu bakar Al Humaidi, Musnad karya Imam Abu Ya’la -rahimakumullah- . Kitab ini adalah jilid 10 dari terjemahan Kitab Musnad Imam Ahmad yang telah ditakhrij oleh Syaikh Al Muhadits Ahmad bin Muhammad Syakir -rahimahullah- .

Raudhatuth Thalibin [jilid 3]
Judul asli : Raudhatuh Thalibin
Penulis : Imam An Nawawi -rahimahullah-
Ta’liq : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah-
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah-
Tahqiq & Takhrij: Fuad bin Siraj Abdul Ghofar
Fisik : Buku ukuran sedang 23,5 x 15 cm , Hardcover, 972 hal
Penerbit:
Pustaka Azzam
Harga Rp : call/sms ke 0817 250 686

Juga Tersedia:
Jilid 1 Rp 147.000
Jilid 2 Rp 143.000

Menyibukan diri dengan mempelajari ilmu agama termasuk upaya  mendekatkan diri kepada Alloh Azza wa Jalla yang paling baik, mempelajari ilmu juga merupakan salah satu bentuk kebaikan yang paling penting.Diantara salah satu ilmu yang sangat penting bagi muslimin yakni ilmu fiqih yang mencakup semua pembahasan agama. Dengan mempelajari ilmu, diantaranya ilmu fiqih, dia akan mendapatkan kemuliaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Mua’wiyah -rodliallohu anhu-  Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya:” Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan fahamkan dia dalam ilmu agama.”

Oleh karena itu para ulama berlomba menulis kitab-kitab fiqih, karena memiliki perhatian terhadap pentingnya ilmu ini sesuai dengan pemahaman ilmu fiqih yang ada pada mereka.
Diantara ulama ada yang menulis kitab fiqih dalam konteks madzab mereka yang tersebar di berbagai tempat. ada juga yang menulis dengan melakukan ijtihad, penyuntingan,dan melakukan peninjuan terhadap permasalahan fiqih yang sangat mendalam. Mereka mencocokkan antara berbagai peristiwa yang terjadi dengan nash-nash wahyu yang diturunkan kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan hadits yang diriwayatkan dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , dengan demikian para ulama telah mengajarkan kepada ummat Islam, ilmu yang besar dan pemikiran yang didasarkan pda kaedah-kaedah yang benar.dan mereka tulis dalam kitab-kitab mereka berdasarkan sumber otentik dan pemahaman  dan manhaj yang lurus. [dikutip dari pengantar Syaikh Bakr Abu Zaid terhadap kitab At Taqrib lil ulum Ibnil Qoyyim].
Diantara salah satu ulama tersebut adalah Imam Abu Zakariya An Nawawi -rahimahullah-  dengan buku karya beliau tentang fiqih yakni kitab Raudhatuth Thalibin .
Alloh Azza wa Jalla telah memberkahi hidup beliau, sehingga walaupun beliau wafat diusia 45 tahun, namun beliau meninggalkan karangan buku-buku yang sangat banyak yang tidak kalah dengan ulama lainnya yang berusia lebih lama dari beliau. Alloh Azza wa Jalla telah memberkahi usia beliau dengan ilmu yang banyak dan bermanfaat.
Inilah edisi terjemahan dari kitab Raudhahtuh Thalibin, sebuah kitab fiqih karya Imam An Nawawi -rahimahullah- , yang menjadi referensi ilmu fiqih dalam madzab Syafii.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.