Arsip

Tag Archives: Imam An Nawawi -rahimahullah-

Al Majmu Syarh Al Muhadzdzab [ jilid 3]
Judul asli : Al Majmu Syarah Al Muhadzdzab
Penulis : Imam An Nawawi -rahimahullah-
Fisik : buku ukuran sedang (p=23,5 cm), Hardcover, 1004 hal
Penerbit : Pustaka Azzam
Harga: Rp197.000,-

Pemesanan : 0817 250 686

Kitab Al Majmu karya An-Nawawi merupakan referensi fikih terbesar madzhab Asy-Syafi’i secara khusus dan fikih Islam secara umum. Selain  juga merupakan bagian dari kekayaan klasik Islam yang murni dan sok khazanah fikih perbandingan. Kitab yang sangat monumental ini memiliki karakter khusus yang membuatnya berbeda dari segi metodologi ilmu yang akurat, sehingga membuatnya berada di tempat teratas dibanding ensklopedi-ensiklopedi fikih lainnya, baik klasik maupun kontemporer.
Tidak diragukan lagi, kitab Al Majmu’ merupakan khazanah terbesar  bidang fikih Islam yang isinya menjelaskan konsep-konsep dasar dari hukum Islam yang membuat para ulama setelahnya kagum.

Orang yang pernah mengkaji kitab-kitab induk terbesar dalam fikih Islam di berbagai madzhab, seperti Al Muhalla karya Ibnu Hazm, Al Umm karya Asy-Syafi ‘i, AlMughni karya Ibnu Qudamah dalam fikih madzhab Hanbali dan kitab AlMabsuth karya As-Sarkhasi, akan menemukan bahwa kitab Al Majmu’ karya An-Nawawi merupakan salah satu referensi terbesar yang penuh dengan pendapat-pendapat fikih keempat imam madzhab dan lain-lainnya, sekalipun fokus pembahasannya di tingkat pertama khusus tentang fikih Asy-Syafi’i.
Kitab Al Majmu ‘ berbeda dari kitab-kitab fikih induk lainnya, dimana cakupan isinya memuat seluruh pendapat-pendapat madzhab berikut dalil dalilnya disamping menyebutkan pentarjihan diantara pendapat-pendapat ini. Tak ada yang paling menunjukkan keluasan wawasan An-Nawawi dan kedalaman ilmunya selain dari penjelasannya terhadap isi kitab Al Muhadzdzab karya Asy-Syirazi yang berjumlah sekitar 120 halaman menjadi 9 jilid kitab Al Majmu’. Namun sayangnya ia meninggal dunia lebih cepat sebelum sempat menyelesaikan Syarh Al Muhadzdzab berdasarkan methodologi ilmiah yang telah ia tetapkan dan dipegangnya, Dari pen-takkrij-an hadits-hadits hukum, penjelasan maknanya, penyebutan seluruh pendapat para imam dari kalangan ahli fikih dan pentarjihan diantara pendapat-pendapat tersebut serta madzhab-madzhab mereka, penjelasan kecacatan hadits, status hadits dan biografi para perawinya, penafsiran kalimat-kalimat yang langka dari Al Qur’an dan hadits serta penjelasan kosa kata yang terdapat dalam redaksi kitab Al Muhadzdzab, membuat kitab Al Majmu’ benar-benar merupakan ensiklopedi umum dalam bidang fikih, hukum, tafsir ayat-ayat Al Qur’an dan hadits, keunikan bahasa serta biografi para ulama terkemuka dari kalangan perawi dan ahli hadits.
Namun, An-Nawawi -rahimahullah-  meninggal sebelum menyelesaikan kajian ilmiyahnya dalam menguraikan kitab Al Muhadzdzab pada abad ketujuh Hijriyah karena ia meninggal dunia lebih awal pada tahun 676 H setelah memenuhi dunia dengan ilmu dan karya tulis, maka selanjutnya tugas mulia ini diambil alih oleh salah seorang ulama terkemuka, yaitu Taqiyuddin As-Subki, seorang Syaikhul Islam di masanya. Ia dilahirkan di desa Subuk dari wilayah kabupaten Monofia pada tahun 683 H dan wafat pada tahun 756 H.
An-Nawawi adalah kebanggaan ulama Syam. Begitu pula dengan As-Subki, dia adalah kebanggaan bagi bangsa Mesir dan salah juga ulamanya. Sang imam yang handal dalam bidang fikih ini menyelesaikan bagian pertama Syarh Al Muhadzdzab dari akhir syarah An-Nawawi pada awal bab mu ‘amalat. Selain itu, ia mengikuti metodependahulunya  dalam menjelaskan kitab Al Muhadzdzab karya Asy-Syirazi. , ia meninggal dunia lebih awal setelah menyelesaikan tiga jilid dari kitab Al majmu’ sehingga jumlah keseluruhannya menjadi 12 jilid. Setelah itu
warisan Islam ini selama hampir 6 abad tetap menjadi manuskrip-manuskrip arkeologi di perpustakaan umum Timur dan Barat. Sebagiannya di Turki, sebagiannya  di Eropa dan sebagian lainnya di perpustakaan Mesir. Kitab ini menjadi  harta simpanan terpendam yang tidak mendapatkan perhatian para ahli fikih selama 6 abad. Kecuali sedikit penjelasan (syarah) dari Ibnu Ar Rakbi atas isi Al Muhadzdzab.
Kemudian Alloh Azza wa Jalla menizinkan kitab ini lepas dari “kurungan” perpustakaan dan menuju dunia penerbitan hingga para Ahli Fiqih dapat memanfaatkannya dan para praktisi hukum bisa mengambil isinya. Lalu Alloh Azza wa Jalla  mengirimkan beberapa ulama yang sangat menaruh perhatian besar terhadap kekayaan peninggalan Islam untuk memberikan tahqiq dan ta’liq-nya.

Raudhatuth Thalibin [jilid 3]
Judul asli : Raudhatuh Thalibin
Penulis : Imam An Nawawi -rahimahullah-
Ta’liq : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah-
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah-
Tahqiq & Takhrij: Fuad bin Siraj Abdul Ghofar
Fisik : Buku ukuran sedang 23,5 x 15 cm , Hardcover, 972 hal
Penerbit:
Pustaka Azzam
Harga Rp : call/sms ke 0817 250 686

Juga Tersedia:
Jilid 1 Rp 147.000
Jilid 2 Rp 143.000

Menyibukan diri dengan mempelajari ilmu agama termasuk upaya  mendekatkan diri kepada Alloh Azza wa Jalla yang paling baik, mempelajari ilmu juga merupakan salah satu bentuk kebaikan yang paling penting.Diantara salah satu ilmu yang sangat penting bagi muslimin yakni ilmu fiqih yang mencakup semua pembahasan agama. Dengan mempelajari ilmu, diantaranya ilmu fiqih, dia akan mendapatkan kemuliaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Mua’wiyah -rodliallohu anhu-  Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya:” Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan fahamkan dia dalam ilmu agama.”

Oleh karena itu para ulama berlomba menulis kitab-kitab fiqih, karena memiliki perhatian terhadap pentingnya ilmu ini sesuai dengan pemahaman ilmu fiqih yang ada pada mereka.
Diantara ulama ada yang menulis kitab fiqih dalam konteks madzab mereka yang tersebar di berbagai tempat. ada juga yang menulis dengan melakukan ijtihad, penyuntingan,dan melakukan peninjuan terhadap permasalahan fiqih yang sangat mendalam. Mereka mencocokkan antara berbagai peristiwa yang terjadi dengan nash-nash wahyu yang diturunkan kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan hadits yang diriwayatkan dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , dengan demikian para ulama telah mengajarkan kepada ummat Islam, ilmu yang besar dan pemikiran yang didasarkan pda kaedah-kaedah yang benar.dan mereka tulis dalam kitab-kitab mereka berdasarkan sumber otentik dan pemahaman  dan manhaj yang lurus. [dikutip dari pengantar Syaikh Bakr Abu Zaid terhadap kitab At Taqrib lil ulum Ibnil Qoyyim].
Diantara salah satu ulama tersebut adalah Imam Abu Zakariya An Nawawi -rahimahullah-  dengan buku karya beliau tentang fiqih yakni kitab Raudhatuth Thalibin .
Alloh Azza wa Jalla telah memberkahi hidup beliau, sehingga walaupun beliau wafat diusia 45 tahun, namun beliau meninggalkan karangan buku-buku yang sangat banyak yang tidak kalah dengan ulama lainnya yang berusia lebih lama dari beliau. Alloh Azza wa Jalla telah memberkahi usia beliau dengan ilmu yang banyak dan bermanfaat.
Inilah edisi terjemahan dari kitab Raudhahtuh Thalibin, sebuah kitab fiqih karya Imam An Nawawi -rahimahullah- , yang menjadi referensi ilmu fiqih dalam madzab Syafii.

Terjemah Riyadhus Shalihin [edisi 2 jilid lengkap]
Judul asli: Riyadhus Shalihin
Penulis: Imam An Nawawi -rahimahullah-
Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah-
Fisik: buku ukuran sedang, 16 x 24 cm, hardcover, 812 hal dan 832 hal
Penerbit: Hikmah Ahlus Sunnah
Harga: jilid 1 Rp 130.000, jilid 2 Rp 135.000
Pemesanan: 085 292 111 852

Kitab Riyadhush Shalihin sudah tidak asing lagi bagi kaum muslimin. Kitab hampir dipakai di semua kalangan muslimin baik di bidang lingkungan pendidikan ataupun selainnya, atau dengan mudah kita bisa dapati kitab ini ada di masjid-masjid dan perpustakaan-perpustakaan kaum muslimin. Sedemikian besar kebutuhan umat terhadap kitab ini, dikarenakan pembahasan yang terkandung di dalamnya. Barakah yang terkandung dalam kitab yang disusun oleh Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi -rahimahullah- , yang lebih dikenal dengan Imam An-Nawawi, demikian nyata pada kaurn muslimin, sejak dahulu hingga sekarang. Alloh Tabarraka Wa Ta’ala  jadikan manfaat yang besar dan luas untuk kaum muslimin dengan kitab ini. Karena di dalamnya berisi bimbingan ilahi, berupa Al-Quran dan hadits Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam, yang akan menunjukkan dan menerangi jalan seorang hamba menuju ridha Allah n dan tuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak.
Pembahasan dalam kitab ini mencakup perkara-perkara yang mendasar, yang menjadi bekal seorang hamba untuk memperbaiki jiwa dan amalannya, berupa : perkara tauhid, tazkiyatun nafs (penyucian jiwa dari akhlak-akhlak tercela), zuhud, qana’ah, amar ma’ruf nahi mungkar, taubat, istiqamah, amanah, tanggung jawab, hak dan kewajiban seorang muslim, menjaga diri dari perbuatan dosa dan perkara yang lainnya. Terlebih lagi pada zaman sekarang, dimana kemerosotan akhlak kaum muslimin sudah mencapai tingkat yang sangat parah, bahkan pada mayoritas mereka. Sehingga saat ini sudah sangat sulit didapati orang-orang yang berakhlak mulia dan lebih mementingkan kehidupan akhirat mereka daripada dunianya. Menilik kondisi yang demikian, kita akan sadari l3ahwa kebutuhan kaum muslimin tentang pembahasan ini sangat besar dan urgen, yang dengannya diharapkan akan mengembalikan kejayaan kaum muslimin, sebagaimana yang telah dicapai pada zaman Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam  dan Khulafa’ Rasyidun
Sebagian Muslimin ada yang berlebihan menggangap kitab Riyadhus Shalihin ini adalah buku pegangan setelah Al Quran. Ini suatu pendapat yang keliru, karena ada beberapa hadits dalam kitab Riyadhus Shalihin ini dinilai dhaif oleh ulama hadits. Oleh karena itu dalam edisi terjemahan Riyadhus Shalihin ini dilengkapi takhrij hadits yang menjelaskan penilaian kekuatan derajat hadits yang mengacu pada kitab- kitab hadits karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah-

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.