Arsip

Tag Archives: Pustaka Imam Syafii

Tafsir Ibnu Katsir [edisi LUX, 6 Jilid lengkap]
Penulis: Imam Ibnu Katsir – rahimahullah-
Dr. Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh
Fisik: Buku ukuran Besar 21×29.5cm (jilid 1-6), Hardcover Lux
Penerbit: Pustaka Imam Syafii
Harga: Rp. 1.500.000/set
PEMESANAN: 0817 250 686

Tersedia pula:
Tafsir Ibnu Katsir [Edisi Ekonomis, 10 jilid lengkap]
Penulis: Imam Ibnu Katsir – rahimahullah-
Dr. Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh
Fisik: Buku ukuran sedang 24cm, Hardcover
Penerbit: Pustaka Imam Syafii
Harga: Rp. 1.000.000,-
PEMESANAN: 0817 250 686

Tidak diragukan lagi bahwa Tafsir Ibnu Katsir adalah salah satu kitab tafsir yang kandungan isinya tidak dibaurkan dengan ilmu lain. Dengan demikian, tafsir ini diharapkan dapat mencapai tujuan yang tinggi dan mulia,
Yaitu menyampaikan maksud firman Allah Ta’ala melalui manhaj yang lurus dan valid serta jalan pemahaman ulama Salafush Shalih yaitu penafsiran al-Qur-an dengan al-Qur-an, penafsiran al-Qur-an dengan hadits, dengan merujuk kepada pendapat para ulama Salafush Shalih dari kalangan para Sahabat dan Tabi’in dengan konsep dan kaidah bahasa Arab.
Lalu DR. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh meringkas kitab ini dan memberi nama “Lubaabut Tafsiir”. Dalam melakukan peringkasan kitab ini, beliau meiihat cara terbaik adalah dengan membiarkan apa adanya kalimat-kalimat yang ditulis oleh Ibnu Katsir sendiri, dan menghilangkan beberapa hal yang dianggap tidak perlu, seperti cerita. hadits-hadits dha’if, dan lain sebagainya.
Setelah dilakukan peringkasan, beliau melakukan beberapa penambahan:

  1. Penafsiran tiga ayal dari surat al-Maidah. Nomor ayat-ayat tersebut adalah 97,98,99, dan akhir dari ayat 96.
  2. Mentakhrij lebih dari 300 hadits yang dikemukakan penulis tafsir ini (Ibnu Katsir) tanpa ada komentar darinya.
  3. Menisbatkan qira’at dan riwayatnya kepada para tokohnya secara rinci dan teliti, yang oleh penulis buku ini disampaikan secara ijmal (ringkas).
  4. Menafsirkan lafadz-lafadz yang ditulis dalam kitab ini yang sulit difahami maksudnya oleh para penuntut ilmu.
  5. Melakukan ralat terhadap sedikit kesalahan dalam kitab berkenaan dengan qira’at atau pun yang lain.

 

Fathulbari Syarah Shahih Al Bukhari [jilid 3]
Judul asli: Fathulbari Syarah Shahih Al Bukhari
Penulis: Imam Ibnu Hajar Al Asqolani -rahimahulloh-
Fisik: buku ukuran sedang 17×24 hal, Hardcover
Penerbit: Pustaka Imam Syafii
Harga: Rp 110.000/jilid
Pemesanan: 0817250686

Kitab fathulbari Syarah Shahih Al Bukhari  telah mendapatkan sambutan paling positif dari semua kalangan umat Islam dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Lebih dari itu, mereka menyebutnya kitab yang paling shahih setelah al-Qur-anul Karim. Sebagai kitab yang diterima oleh semua kalangan, bahkan diunggulkan daripada kitab-kitab hadits lain, tentu syarahnya sangat diperlukan untuk dapat memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya secara benar dan mendalam. Dan syarah terbaik kitab Shahiihul Bukhari ini menurut hemat kami, serta yang paling masyhur dan dijadikan rujukan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia, adalah kitab Fathul Baari.
Tidak diragukan lagi bahwa kitab Shahiihul Bukhari merupakan kitab hadits paling otentik di muka bumi ini. Penulisnya, Imam al-Bukhari -rahimahulloh- , hanya mencantumkan hadits-hadits shahih di dalamnya dengan syarat-syarat periwayatan (transmisi) yang begitu ketat. Bahkan, untuk memantapkan pilihannya beliau tidak segan-segan untuk shalat Istikharah dua rakaat setiap akan mencantumkan haditsnya di kitabnya itu sebagai bukti keseriusan dan pertanggungjawaban beliau di hadapan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala . Maka sangatlah wajar apabila kitab ini dinobatkan sebagai kitab yang kandungannya paling otentik setelah kitab suci al-Quran. Dan, pantaslah kiranya setiap usaha untuk melemahkan kitab ini selalu terbantahkan.
Ribuan hadits terkandung di dalamnya. Beberapa di antaranya sangat sulit bagi orang awam untuk memahami maknanya, lebih-lebih menyelaminya. Padahal, dari awal sampai akhir, kitab ini menyuguhkan banyak sekali pelajaran dan faedah yang sangat berguna bagi kehidupan seorang Muslim dan umat manusia secara keseluruhan. Tidak hanya dalam masalah’aqidah dan ibadah, spektrumnya merambah juga ke masalah etika, sosial, politik, budaya, dan lain sebagainya.Tentunya dalam koridor Sunnah Nabawiyyah
Kitab ini menggabungkan dua karya monumental dalam bidang hadits, berupa matan dan syarahnya. Yang pertama adalah Shahiihul Bukhari, yaitu kitab induknya; dan yang kedua adalah syarahnya, yaitu Fat-hul Baari itu sendiri. Fat-hul Baari tcrgolong kitab paling paripurna dalam syarah hadits sehingga segala hal berkaitan dengan syarah hadits hampir semuanya didapatkan di sini. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika para ulama mengatakan: “Laahijrata ba’dalFathi,” yang maknanya: Tidak perlu hijrah (beralih ke kitab lain) selama ada Fathul Baari”. Para ulama setelahnya banyak mengutip perkataan Ibnu Hajar dalam penulisan kitab-kitab mereka dan menjadikannya sebagai rujukan ilmiah.
Kitab Fathul Baari ini mempertemukan dua ulama ulung di bidang hadits nabawi, dan keilmuan keduanya telah diakui oleh semua kalangan umat Islam. Yang pertama adalah Imam al-Bukhari, yang digelari dengan Amirul Mukminin dalam bidang hadits; dan yang kedua adalah Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, yang digelari al-Hafizh. Gelar al-hafizh bagi seorang ahli hadits hanya disematkan kepada yang mampu menghafal 100.000 hadits, baik sanad maupun matannya. Gelar ini diberikan kepada Ibnu Hajar oleh gurunya, al-Hafizh al-‘Iraqi, seorang syaikh (ulama besar) yang ahli dalam bidang hadits.
Selain itu, Ibnu Hajar -rahimahulloh-  termasuk penulis produktif dan hasil-hasil karyanya pun banyak diminati dan dikagumi oleh kaum Muslimin di seluruh dunia. Di antara karya-karya besar beliau adalah Fathul Baari Syarh Shahiihil Bukhari, Buluughul Maraam min Adillatil Ahkaam, Tahdziibut Tahdziib, al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah, dan lain-lain.
Di samping itu, banyak ulama yang menyanjung kepakaran beliau. Al-Hafizh as-Sakhawi -rahimahulloh-  berkomentar: “Mengenai pujian ulama terhadap Ibnu Hajar, sudah tidak terhitung lagi banyaknya.” Al-‘Iraqi -rahimahulloh-  memberikan pujian: “Ibnu Hajar adalah seorang syaikh yang ‘alim
(berilmu luas), sempurna pemahamannya, berakhlak mulia, muhaddits (ahli hadits), banyak memberikan manfaat kepada umat, sosok yang agung, al-Hafizh, sangat bertakwa, dhabith (kuat hafalannya), tsiqah (dapat dijadikan hujjah), amanah (dapat dipercaya), mampu membedakan antara perawi-perawi yang tsiqah (tepercaya) dan yang dha’if, banyak menemui para ahli hadits, dan dapat menguasai banyak cabang ilmu dalam waktu yang relatif pendek.”
Kitab syarah atau penjelasan kitab Shahiihul Bukhari ini tergolong kitab syarah yang paling sempurna karena kemampuannya dalam menyajikan dan menerangkan banyak hal. Mulai dari pembahasan masalah yang ditinjau dari ilmu bahasa: definisi masing-masing istilah secara lughawi (etimologi) dan syar’i (terminologi), perbandingan redaksi riwayat-riwayat, penjelasan kaidah ushul fiqih, pengungkapan keterangan ilmu hadits: sanad dan matannya, hingga pelajaran penting dan hikmah hadits nabawi; serta, pembahasan hal-hal yang terkait lainnya. Oleh karena itulah, kitab Fathul Baari ini sering kali dijadikan sebagai bahan rujukan atau sumber referensi oleh para penulis Muslim, khususnya terkait dengan makna-makna hadits yang tertulis dalam kitab Shahiihul Bukhari. Tidak ada yang mampu menandingi kitab syarah ini. Memang, ada kitab syarah Shahiihul Bukhari lain, berjudul Umdatul Qaari’ yang ditulis oleh al-Badrul ‘Aini; setelah terbitnya kitab ini. Akan tetapi, ketenaran kitab syarah tersebut masih kalah jauh dibandingkan dengan kemasyhuran kitab Fathul Baari.
Inilah edisi terjemah kedalam bahasa Indonesia, yang insya Alloh diterbitkan seperti kitab aslinya, diterjemahkan apa adanya dan tanpa menghilangkan atau mengurangi sebagian teks Arabnya, baik pada sanad atau matan hadits serta syarahnya. Termasuk dalam hal ini penulisan nomor bab pada matan kitab Shahiihul Bukhari, yang sebagiannya dimunculkan oleh penulisnya dan sebagiannya tidak. ditampilkan terjemahan kitab Fathul Baari secara utuh serta lebih bermanfaat
Inilah terjemah dari Kitab Fathulbari, terjemah dari kitab asli cetakan Darussalam, Saudi yang telah ditahqiq oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz -rahimahulloh- dan  Pada terbitan buku terjemahan ini, dilengkapi dengan glosarium untuk memudahkan pembaca dalam memahami kata-kata asing yang bertebaran di sela-sela pembahasan bab-babnya. Kata-kata tersebut, baik berkaitan dengan istilah-istilah kebahasaan, yaitu nahwu dan sharaf; istilah-istilah sastra dalam ilmu balaghah, seperti ma’ani dan lasybib; maupun istilah-istilah lain yang berkaitan dengan hadits beserta musthalahnya dan fiqih beserta ushulnya, seperti, munqathi’, maushul, sanad, mansukh, nasikh, mafhum mukhalafah dan lain-lain. Jilid ke 3 ini membahas tentang fiqh wudhu.

Sirah Nabi Muhammad
Judul asli: Al Fushuul fii Siiratir Rasul -Sholallahu Alaihi Wassalam-
Penulis: Imam Ibnu Katsir -rahimahulloh-
Tahqiq: Syaikh Salim bin ied Al hilali
Fisik: buku ukuran sedang 17x24cm, hardover,577 hal
Penerbit: Pustaka imam Syafii
Harga: Rp 120.000,-
Pemesanan: 0817250686

Salah satu buku yang wajib dibaca oleh umat Islam adalah buku sirah Nabi, atau dengan istilah lain biografi Nabi Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Alasannya adalah, sirah Nabi memuat segala hal tentang kehidupan Nabi secara runut, mulai dari A sampai Z, sehingga dengan membacanya kita mendapatkan gambaran Islam yang utuh dan lengkap; yang tersaji secara lebih nyata, hidup, fisual, dan mudah dipahami serta diaplikasikan dalam kehidupan. Dengan kata lain, sirah Nabi adalah potret Islam yang hidup dan berjalan.
Tidak sedikit buku sirah yang ditulis oleh para ulama Muslim, yang klasik maupun yang modern, baik yang murni kisah sirah maupun yang dilengkapi dengan pelajaran di balik setiap peristiwa,baik yang singkat padat maupun yang panjang lebar; tiap-tiap buku tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan masmg-masing.
Namun ada hal yang lebih penting dari itu semua, yaitu keautentikan kisah-kisah sirah yang dimuat di dalamnya. Sirah merupakan kumpulan atau kabar di masa lampau yang ditulis setelah peristiwa itu berlalu dan diriwayatkan dari generasi ke generasi, sehingga ada kemungkinan masuknya riwayat-riwayat yang tidak autentik. Oleh karena itu diperlukan kajian terhadap keautentikan setiap riwayatnya la benar-benar hanya mendapatkan riwayat-riwayat yang jelas kedudukannya dan dapat dipertanggung-jawabkan.
Sirab Nabi karya Ibnu Katsir ini  adalah termasuk buku sirah terbaik dibanding buku-buku sirah yang lain, berdasarkan alasan-alasan berikut:
1.    Peenulisnya seorang ahli sejarah
Ibnu Katsir -rahimahulloh- tergolong ulama yang sulit dicari tandingannya, beliau menguasai banyak bidang ilmu pengetahuan. Selain bergelar  muhaddits (ahli hadits), mufassir (ahli tafsir), faqih (ahli fiqih), dan gelar ternama lainnya beliau juga digelari muarrikb alias ahli sejarah. Dalam hal ini, beliau memiliki karya tulis sejarah fenomenal yang muat riwayat-riwayat sejarah urnat manusia dimulai dari manusia pertama yaitu Nabi Adam hingga akhir masa kekhalifahan Islam. Kisah-kisah sejarah itu beliau tuangkan dalam kitabnya :  al-Bidaayah wan Nihaayah. Di dalam kitab tersebut termuat Sirah Nabi Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam-  serta biografi empat orang Khulafaur rasyidin. Namun, perlu diketahui bahwa kitab sirah yang sekarang  ini bukanlah saduran dari kisah yang tercantum dalam kitab tadi. Bukan pula kutipan-kutipan dari kisah-kisah populer. tetapi, kitab ini ditulis secara khusus dan murni kitab sirah.
2.    Penyusunan kitabnya berdasarkan metode muhadditsin
Kitab sirah ini tergolong kitab klasik. Ditulis oleh penulisnya larkan metode penulisan muhadditsin (ahli hadits) yang begitu selektif terhadap berita-berita yang disampaikan. Hal ini dapat dimaklumi, karena penulisnya seorang Muhaddits (ahli hadits) yang ternama. Sebagai seorangahli hadits, Ibnu Katsir menerapkan keahlian ini dalam setiap karyanya, seperti pada kitabnya yangberjudul Tafsiirul Al Qur’anul Adzim yangdikenaldengan Tafsir Ibnu Katsir, salah satu kitab tafsir bil ma’tsur terbaik. Juga pada kitabnya al-Bidaayah wan Nihaayah.
Dalam kitab ini,  beliau selalu merujuk sumber-sumber sejarah dari riwayat-riwayat yang shahih sebagai dalilnya, lalu meramunya menjadi sebuah cerita sejarah yang apik dan tidak kaku dalam penyampaiannya.
Dengan kata lain, dalam Sirah Nabi ini, Ibnu Katsir menempuh metode bil ma’tsur yakni berdasarkan riwayat-riwayat. Meski begitu, beliau juga tidak meremehkan kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh para ulama sebelumnya, seperti ath-Thabari dan lain-lain. Hanya saja, pada kitab sirah ini penulisnya tidak terang-terangan mendedikasikan karyanya ini sebagai kitab shahih. Bagaimanapun juga, metode ini lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode penulisan yang lain.
3.       Hadits-haditsnya telah dl-tahqiq, di-takhrij, dan dtperjelas maknanya
Kitab sirah Nabi ini semakin berbobot dan lengkap dengan tahqiq Syaikh Salim bin ‘led al-Hilali. Di dalam tahqiq-nya, beliau melakukan takhrij terhadap riwayat-riwayat yang dijadikan sumber atau rujukan Ibnu Katsir dalam penulisan kitab sirahnya ini. Selain men-takhrij-nya, Syaikh Salim juga melakukan banyak hal positif terhadap kitab ini, antara lain dengan menyusun kembali bagian-bagian pembahasan dan mengurutkan tema-temanya, menjelaskan kata-kata yang sulit dipahami, mendiskusikan aspek-aspek fiqihnya maupun riwayat-riwayat yang menjadi sumber sejarahnya, serta membuat daftar isi srsuai dengan sistematika penulisan ilmiah yang berlaku.
4.       Adanya tambahan pembahasan mengenai sifat fisik Nabi, keadaan rumah tangga Beliau, dan hukum-hukum yang Allah khususkan bagi Nabi-Nya
Dan, ketiga hal itulah yang menjadi nilai tambah dalam buku mi yang tidak didapatkan pada kitab sirah mana pun. Anda akan dapatkan di akhir pembahasan kitab ini hal-hal yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik Nabi, anak-anaknya, istri-istrinya, pelayan-pelayannya, hingga unta dan kuda beliau. Kemudian disusul dengan pembahasan hal-hal yang menjadi kekhususan Rasulullah , yang tidak dimiliki para Nabi lainnya; seperti diberikan-Nya kemenangan dari musuh-musuh beliau dengan dimasukkan-Nya rasa gentar di hati mereka, seluruh permukaan bumi (tanah) dapat dijadikan tempat shalat dan bersuci, dihalalkan-Nya harta rampasan perang, diberikan hak memberi syafaat pada hari Kiamat, dan diutus kepada seluruh umat manusia, dan masih banyak lagi keistimewaan lain yang hanya dianugerahkan Allah kepada beliau. Pembahasan terakhir ini lalu ditutup dengan hal-hal yang menjadi kekhususan Nabi  yang tidak dimiliki umatnya, mulai dari masalah yang berkaitan dengan iman, bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, warisan, hingga masalah hukum-hukum syari’at yang lain.
Membaca kitab ini, selain mendapatkan uraian kisah Nabi yang dapat dipertanggungjawabkan, akan menambah wawasan kita tentang sosok Nabi kita Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- , secara lebih luas dan mendalam.

Menyelisik Alam Malaikat
Judul asli: Mu’taqod Firaqil Muslimin  wal Yahuud wan Nashaaraa wal Falaasifah wal Watsaaniyyiin fil malaa-ikatil Muqarrabiin
Penulis: Syaikh Dr Muhammad bin Abdul Wahab Al Aqil
Fisik: buku ukuran sedang 17×24 cm, hardcover, 492 hal
Penerbit: Pustaka Imam Syafii
Harga: Rp 90.000,-
Pemesanan:
0817250686

Dunia Malaikat berbeda dengan dunia manusia. Malaikat adalah makhluk Alloh Subhanahu Wa Ta’ala yang diciptakan dari nur ( cahaya). Mereka memiliki wujud asli yng sangat besar, diantara riwayat yang menunjukkan besarnya fisik dan kekuatan malikat adalah hadits jabir bin Abdulloh -Rodliallahu Anhu- bahwasanya Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,
” Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat pemikul Arsy’. Sesungguhnya jarak antara ujung telinga dan pundaknya sejauh perjalanan 700 tahun.” [ HR Abu Daud no 4727, disahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah I/151].
Karakteristik fisiknya berbeda dengan bangsa jin ataupun manusia, ia bukan pria bukan pula wanita. Kendati begitu, ia diberi kemampuan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  untuk menjelma menjadi seorang manusia. Tujuannya untuk menguji keimanan dan ketaqwaan hamba-hamba Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.
Salah satu ciri khusus para Malaikat ialah selalu taat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, tidak pernah membangkang ataupun menyelisihi,mereka adalah tentara-tentara Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  , yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh-Nya
Banyak sekali informasi tentang kat yang jarang diketahui kebanyakan orang. Dan, semua hal diuraikan secara lugas dan sistematik oleh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab al-‘Aqil dalam kitabnya yangberjudul- Mu’taqod Firaqil Muslimin  wal Yahuud wan Nashaaraa wal Falaasifah wal Watsaaniyyiin fil malaa-ikatil Muqarrabiin (Pemahaman dan Keyakinan tentang Malaikat menurut  Islam, Yahudi, Nashrani, dan Paganisme.
Penulis, yang juga salah seorang dosen di Universitas Islam Madinah, membagi buku ini terbagi menjadi dua bagian utama. Juz pertama tentang Malaikat menurut al-Qur-an dan as-Sunnah, yang meliputi penjelasan terhadap kewajiban setiap Muslim untuk mengimani Malaikat, baik secara umum maupun terperinci. Pada bagian ini dijelaskan seputar nama-nama Malaikat dan sifat-sifatnya, baik berupa fisik maupun karakteristiknya. Penulis juga mengkritisi beberapa nama Malaikat yang beredar luas di masyarakat tetapi tidak tercantum dalam nash al-Qur-an maupun as-Sunnah, seperti nama ‘Izra-il sebagai Malaikat pencabut nyawa, padahal yang benar-wallahu alam-adalah Malaikat Maut, ataupun nama Raqib dan ‘Atid sebagai dua Malaikat pencatat amal manusia, padahal yang benar adalah keduanya merupakan sifat bagi para Malaikat pencatat amal, yakni Malaikat pengawas yang selalu hadir (siap mencatat).
Di samping itu, penulis juga memperluas bahasannya dengan mengulas tugas-tugas Malaikat.
Menurutnya, tugas-tugas yang dibebankan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  kepada mereka terbagi dua:
(1) tugas yang berkaitan dengan alam semesta, antara lain memikul ‘Arsy, menjaga Surga dan Neraka, mengendalikan gunung, dan lain sebagainya; dan,
(2) tugas yang berkaitan dengan manusia, antara lain sebagai perantara antara manusia dan Rabbnya, mencatat amal baik dan buruknya, menganugerahkan nikmat kepadanya, menurunkan laknat atasnya, menjaganya dari keburukan, menemani dan mendo’akannya untuk kebaikan terutama bagi mereka yang berada dalam majelis ilmu, dan lain sebagainya.
Sedangkan pada juz kedua, penulis dengan cakrawala keilmuannya menguraikan pemahaman dan keyakinan beberapa sekte dalam Islam dan penganut agama lainnya tentang Malaikat. Sekte-sekte Islam yang dimaksud adalah para ahli kalam, yakni Jahmiyyah, Asy’ariyyah, Maturidiyyah, Mu’tazilah, Neo-Mu’tazilah, Syi’ah, Bathiniyyah, dan lain semisalnya. Adapun penganut agama lain, yang dimaksud adalah orang-orang yang berasal dari kalangan Yahudi, Nashrani, kaum musyrikin Arab, dan ahli filsafat; termasuk di dalamnya Hindu dan Budha. Pertama-tama, penulis memaparkan prinsip-prinsip ‘aqidah mereka dalam beragama secara umum, kemudian baru menukik pada penjabaran keyakinan mereka terhadap Malaikat dan seluk-beluknya. Selanjutnya, ia mengkritisi beberapa bagian yang keliru dan sesat dari pemahaman mereka dengan pisau analisis berdasarkan pedoman al-Qur-an dan as-Sunnah.
Dengan sistematika demikian, buku ini dapat dijadikan rujukan sebagai buku yang komprehensif tentang Malaikat. Tidak hanya mengulitinya dalam perspektif Islam, melainkan juga mengulas pandangan-pandangan lain dari kalangan non-Muslim sekaligus mengungkapkan letak kekeliruannya mereka.

Sirah Nabi Muhammad
Judul asli: Al Fushuul fii Siiratir Rasul -Sholallahu Alaihi Wassalam-
Penulis: Imam Ibnu Katsir -rahimahulloh-
Tahqiq: Syaikh Salim bin Ied Al Hilali
Fisik: buku ukuran sedang 17x24cm, hardover,577 hal
Penerbit: Pustaka Imam Syafii
Harga: Rp 120.000,-
Pemesanan: 0817 250 686

Salah satu buku yang wajib dibaca oleh umat Islam adalah buku sirah Nabi, atau dengan istilah lain biografi Nabi Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Alasannya adalah, sirah Nabi memuat segala hal tentang kehidupan Nabi secara runut, mulai dari A sampai Z, sehingga dengan membacanya kita mendapatkan gambaran Islam yang utuh dan lengkap; yang tersaji secara lebih nyata, hidup, fisual, dan mudah dipahami serta diaplikasikan dalam kehidupan. Dengan kata lain, sirah Nabi adalah potret Islam yang hidup dan berjalan.
Tidak sedikit buku sirah yang ditulis oleh para ulama Muslim, yang klasik maupun yang modern, baik yang murni kisah sirah maupun yang dilengkapi dengan pelajaran di balik setiap peristiwa,baik yang singkat padat maupun yang panjang lebar; tiap-tiap buku tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan masmg-masing.
Namun ada hal yang lebih penting dari itu semua, yaitu keautentikan kisah-kisah sirah yang dimuat di dalamnya. Sirah merupakan kumpulan atau kabar di masa lampau yang ditulis setelah peristiwa itu berlalu dan diriwayatkan dari generasi ke generasi, sehingga ada kemungkinan masuknya riwayat-riwayat yang tidak autentik. Oleh karena itu diperlukan kajian terhadap keautentikan setiap riwayatnya la benar-benar hanya mendapatkan riwayat-riwayat yang jelas kedudukannya dan dapat dipertanggung-jawabkan.
Sirab Nabi karya Ibnu Katsir ini  adalah termasuk buku sirah terbaik dibanding buku-buku sirah yang lain, berdasarkan alasan-alasan berikut:
1.    Peenulisnya seorang ahli sejarah
Ibnu Katsir -rahimahulloh- tergolong ulama yang sulit dicari tandingannya, beliau menguasai banyak bidang ilmu pengetahuan. Selain bergelar  muhaddits (ahli hadits), mufassir (ahli tafsir), faqih (ahli fiqih), dan gelar ternama lainnya beliau juga digelari muarrikb alias ahli sejarah. Dalam hal ini, beliau memiliki karya tulis sejarah fenomenal yang muat riwayat-riwayat sejarah urnat manusia dimulai dari manusia pertama yaitu Nabi Adam hingga akhir masa kekhalifahan Islam. Kisah-kisah sejarah itu beliau tuangkan dalam kitabnya :  al-Bidaayah wan Nihaayah. Di dalam kitab tersebut termuat Sirah Nabi Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam-  serta biografi empat orang Khulafaur rasyidin. Namun, perlu diketahui bahwa kitab sirah yang sekarang  ini bukanlah saduran dari kisah yang tercantum dalam kitab tadi. Bukan pula kutipan-kutipan dari kisah-kisah populer. tetapi, kitab ini ditulis secara khusus dan murni kitab sirah.
2.    Penyusunan kitabnya berdasarkan metode muhadditsin
Kitab sirah ini tergolong kitab klasik. Ditulis oleh penulisnya larkan metode penulisan muhadditsin (ahli hadits) yang begitu selektif terhadap berita-berita yang disampaikan. Hal ini dapat dimaklumi, karena penulisnya seorang Muhaddits (ahli hadits) yang ternama. Sebagai seorangahli hadits, Ibnu Katsir menerapkan keahlian ini dalam setiap karyanya, seperti pada kitabnya yangberjudul Tafsiirul Al Qur’anul Adzim yangdikenaldengan Tafsir Ibnu Katsir, salah satu kitab tafsir bil ma’tsur terbaik. Juga pada kitabnya al-Bidaayah wan Nihaayah.
Dalam kitab ini,  beliau selalu merujuk sumber-sumber sejarah dari riwayat-riwayat yang shahih sebagai dalilnya, lalu meramunya menjadi sebuah cerita sejarah yang apik dan tidak kaku dalam penyampaiannya.
Dengan kata lain, dalam Sirah Nabi ini, Ibnu Katsir menempuh metode bil ma’tsur yakni berdasarkan riwayat-riwayat. Meski begitu, beliau juga tidak meremehkan kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh para ulama sebelumnya, seperti ath-Thabari dan lain-lain. Hanya saja, pada kitab sirah ini penulisnya tidak terang-terangan mendedikasikan karyanya ini sebagai kitab shahih. Bagaimanapun juga, metode ini lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode penulisan yang lain.
3.       Hadits-haditsnya telah dl-tahqiq, di-takhrij, dan dtperjelas maknanya
Kitab sirah Nabi ini semakin berbobot dan lengkap dengan tahqiq Syaikh Salim bin ‘led al-Hilali. Di dalam tahqiq-nya, beliau melakukan takhrij terhadap riwayat-riwayat yang dijadikan sumber atau rujukan Ibnu Katsir dalam penulisan kitab sirahnya ini. Selain men-takhrij-nya, Syaikh Salim juga melakukan banyak hal positif terhadap kitab ini, antara lain dengan menyusun kembali bagian-bagian pembahasan dan mengurutkan tema-temanya, menjelaskan kata-kata yang sulit dipahami, mendiskusikan aspek-aspek fiqihnya maupun riwayat-riwayat yang menjadi sumber sejarahnya, serta membuat daftar isi srsuai dengan sistematika penulisan ilmiah yang berlaku.
4.       Adanya tambahan pembahasan mengenai sifat fisik Nabi, keadaan rumah tangga Beliau, dan hukum-hukum yang Allah khususkan bagi Nabi-Nya
Dan, ketiga hal itulah yang menjadi nilai tambah dalam buku mi yang tidak didapatkan pada kitab sirah mana pun. Anda akan dapatkan di akhir pembahasan kitab ini hal-hal yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik Nabi, anak-anaknya, istri-istrinya, pelayan-pelayannya, hingga unta dan kuda beliau. Kemudian disusul dengan pembahasan hal-hal yang menjadi kekhususan Rasulullah , yang tidak dimiliki para Nabi lainnya; seperti diberikan-Nya kemenangan dari musuh-musuh beliau dengan dimasukkan-Nya rasa gentar di hati mereka, seluruh permukaan bumi (tanah) dapat dijadikan tempat shalat dan bersuci, dihalalkan-Nya harta rampasan perang, diberikan hak memberi syafaat pada hari Kiamat, dan diutus kepada seluruh umat manusia, dan masih banyak lagi keistimewaan lain yang hanya dianugerahkan Allah kepada beliau. Pembahasan terakhir ini lalu ditutup dengan hal-hal yang menjadi kekhususan Nabi  yang tidak dimiliki umatnya, mulai dari masalah yang berkaitan dengan iman, bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, warisan, hingga masalah hukum-hukum syari’at yang lain.
Membaca kitab ini, selain mendapatkan uraian kisah Nabi yang dapat dipertanggungjawabkan, akan menambah wawasan kita tentang sosok Nabi kita Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- , secara lebih luas dan mendalam.

Ad Daa’ wa Ad Dawwa': Mengenal Berbagai Jenis Penyakit Hati yang Membahayakan dan Reset Obat yang Mujarab
Judul asli: Ad Daa wa Ad Dawaa’ / al-Jawaabul Kaafi
Penulis: Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah -rahimahullah-
Tahqiq: Syaikh Ali Hasan bin Ali Al halabi Al Atsari
Fisik: buku ukuran sedang 17x24cm, hardcover, 555 hal
Penerbit: Pustaka Imam Syafii
Harga: Rp 120.000,-
Pemesanan: 0817 250 686

Inilah Buku ini berisi tentang terapi terhadap berbagai macam penyakit hati, termasuk di antaranya adalah kebodohan. bahayanya di dunia dan akhirat dan terapi atau obat mujarabnya berdasarkan al-Qur-an dan as-Sunnah. Di samping itu, buku ini penuh dengan nasihat, petuah, peringatan, pelajaran, hikmah, dan ilmu pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh siapa saja yang menginginkan keselamatan, kesehatan, keberhasilan, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Buku ini tidak ditulis secara sistematis dan fokus pada satu tema tertentu karena berlatar belakang fatwa atas beberapa pertanyaan yang diajukan kepada penulisnya yaitu Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah -rahimahullah-
Sebagai muqaddimah, di awal pembahasan dijelaskan tentang pentingnya do ‘a dan kaitannya dangan takdir. Lalu dilanjutkan dengan macam-macam maksiat dan dosa serta dampak negatifnya terhadap pelakunya.
Pada pembahasan berikutnya penulis berbicara tentang hukuman Alloh Tabarraka Wa Ta’ala  terhadap pelaku dosa dan jenis-jenis hukumannya, lalu disusul dengan syirik dan macam-macamnya.
Di dalam buku ini juga dibahas tentang dosa besar, seperti membunuh, berzina, berbuat zhalim, dan lain-lain serta dampak negatif perbuatan tersebut terhadap pelakunya.
Bahkan, dibahas juga mengenai cinta dan tingkatan-tingkatannya; hingga masalah kasmaran (mabuk asmara, mabuk cinta), penyelewengan seksual beserta hukumannya, dan lain-lain.
Demikianlah, begitu banyak permasalahan yang disebutkan Ibnul Qayyim secara panjang lebar. Beliau memaparkan berbagai hal, baik yang halus (tersirat) maupun yang tampak (tersurat) dari hakikat ilmu, disertai dengan penjelasan tentang pengawasan dan pengoreksian ulang terhadap jiwa. Semua pembahasan ini membuat penuntut ilmu sangat membutuhkan kitab ini.
Kitab aslinya berjudul al-Jawaabul Kaafi li Man Sa-ala ‘anid Dawaa’isy Syaaft atau ada yang menyebutkannya dengan judul : ad-Daa’ wad Dawaa’, Selaku penulis, Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- sendiri tidak pernah memberi judul karya ini dengan salah satu dari kedua judul tersebut, sebagaimana dijelaskan di dalam muqaddimah beliau. Kedua judul tersebut diberikan untuk sebuah karya yang sama, yaitu yang ditulis oleh Ibnul Qayyim, sebagai jawaban terhadap soal yang diajukan kepada beliau. Korelasi makna antara kedua judul tersebut dengan isi kitab ini tampak jelas meskipun judul ad-Daa3 wad Dawaa’ lebih dikenal. Sebab, judul tersebut dikuatkan oleh para penyusun biografi beliau -rahimahullah- , seperti al-Hafizh Rajab Al hambali -rahimahullah-  dalam Dzail Thahaqaatil Hanaabilah (11/450), Ibnul ‘Ammad -rahimahullah- dalam asy-Syadzaraat (VI/169), serta asy-Syaukani -rahimahullah- dalam Al Badruth  Thaali’ (11/144).

Shahih dan Dha’if Kitab Al Adzkar [2 jilid lengkap]
Judul asli: Shahih Kitab AL Adzkar Wa Dhaifuhu
Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al Hilali
Fisik: buku ukuran sedang 17x24cm, hardcover
Penerbit: Pustaka Imam Syafii
Harga perjilid:
Rp 120.000
Pemesanan: 0817 250 686

Sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  tidak pernah mewajibkan satu kewajiban hamba-Nya, melainkan Dia menentukan batasan tertentu baginya, kemudian Dia memaafkan orang yang bersangkutan manakala ia ber-udzur (tidak mampu melaksanakannya karena alasan yang dibenarkan syariat), selain dzikir, sebab sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala tidak memberikan batas akhir, dan tidak memaafkan seseorang yang meninggalkannya kecuali terpaksa untuk meninggalkannya,  Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman
“..ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring….a (QS. An-Nisaa': 103)
Maksudnya, yaitu (berdzikirlah) pada waktu malam dan siang  hari, didarat dan di laut, ketika dalam perjalanan atau di tempat tinggal, di waktu kaya ataupun miskin, waktu sehat atau sakit, di tempat tersembunyi atau di tengah keramaian dan pada setiap kondisi.
lloh Subhanahu Wa Ta’ala  menganjurkan agar para hamba-Nya banyak berdzikir dan bersyukur kepada-Nya, karena Dia-lah yang memberikan berbagai nikmat dan menyempurnakan segala macam pemberian-Nya.
Sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  telah menyiapkan pahala yang besar dan tempat yang indah bagi orang yang berdzikir kepada-Nya, Dia berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.”(QS. Al-Ahzaab: 41)
Karena sesungguhnya dzikir kepada Allah termasuk bentuk taqarrub (ibadah yang diamalkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ) yang paling mulia dan ibadah yang paling afdhal. Orang yang menempuhnya berarti ia berjalan di atas jalan keamanan dan ketenteraman, serta faedah yang diraihnya tidak dapat diungkapkan dengan lisan dan tidak dapat diketahui secara keseluruhan oleh manusia.
Seorang hamba tidaklah termasuk hamba yang banyak berdzikir kepada Allah hingga ia mengamalkan dzikir-dzikir yang ma-tsurat (mempunyai dalil yang shahih) secara kontinu dari pengajar kebaikan, imam orang-orang bertakwa, yaitu Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Seperti dzikir-dzikir pada waktu pagi dan petang hari serta pada permulaan malam hari, ketika berbaring di tempat tidur, ketika bangun tidur, dan di akhir shalat; dzikir-dzikir tertentu seperti ketika hendak makan, minum, mengenakan dan melepas pakaian, berjima’ (bersetubuh), masuk masjid, masuk dan keluar WC, turun hujan, mendengar petir, mehhat hilal (bulan sabit pada awal bulan Qamariyah), dan seterusnya dan segala macam dzikir yang mencakup seluruh perbuatan seorang hamba, dan mengisi setiap keadaannya, serta memberi manfaat terhadap umurnya. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa agama yang lurus ini tidak meninggalkan sedikit pun dari kehidupan manusia, baik yang kecil maupun yang besar, kecuah semuanya ada aturannya.
Sepatutnya bagi seorang hamba untuk selalu mengamalkan dzikir-dzikir yang ma-tsur, karena seluruh ibadah harus berdasarkan dalil yang jelas, baik dari al-Qur’an maupun dari hadits yang shahih, juga berdasarkan ittiba’ (mencontoh Rasulullah), bukan berdasarkan nafsu dan ibtida’ (mengerjakan ibadah tanpa dalil atau menambahkannya), dan hendaknya merasa cukup dan  puas dengan apa yang didapatkan dari orang yang merupakan hujjah Allah (yaitu Rasulullah ) atas sekalian makhluk, karena dialah yang lebih mengetahui cara men-taqdis-kan Rabbnya, memuliakan-Nya, dan ia memberitahukan bentuk pujian serta sanjungan kepada-Nya yang merupakan milik-Nya dan bukan milik selain-Nya.
Dzikir-dzikir Nabi yang shahih adalah hal yang paling utama untuk dipilih lalu diamalkan, karena padanya terdapat dambaan tertinggi yang sebenarnya; puncak cita-cita yang mulia, karena di dalamnya terdapat tauhid yang murni, ibadah yang disyari’atkan, cinta yang jujur terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh kaum Muslimin. Konsisten dengan lafazh dan cara tertentu merupakan hal yang dimaksudkan oleh syari’at, sedangkan dzikir-dzikir dan do’a-doa selainnya terkadang haram atau syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia.

Tidak diperbolehkan bagi seorang pun untuk mensyari’atkan satu bentuk dzikir atau do’a selain yang memang telah disunnahkan, lalu dijadikannya sebagai ibadah rutin yang diamalkan oleh orang lain, karena hal ini merupakan ibtida’ (perbuatan bid’ah) dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah dengannya. Oleh sebab itu, hizib (salah satu bentuk dzikir) dari sebagian syaikh (guru), matsurat-matsurat mereka, serta seluruh wirid-wirid tarekat ahli Tasawwuf, tidak ada hakikat dan pengaruhnya sedikit pun dalam agama Allah. Tidak ada yang cenderung kepadanya lalu meninggalkan yang matsur dan shahih, melainkan orang bodoh, lalai, dan melewati batas, sementara ia berprasangka bahwa ia telah berbuat sesuatu yang sempurna untuk dirinya, utama, dan yang terbagus menurut kesepakatan kaum Muslimin.
Perhatian para ulama senantiasa terus menerus dalam memperhatikan bab yang baik lagi mulia dari sekian bab Sunnah yang harum lagi suci ini, baik mengumpulkan maupun menyeleksinya, maka dari itu terbitlah karya-karya yang mulia lagi menyenangkan.
Di antara ulama yang memiliki andil yang sangat besar dalam hal ini adalah Imam an-Nawawi -rahimahulloh-  yang menyusun kitab al-Adzkaar. Kitab yang paling bagus yang  dalam hal ini (masalah dzikir), tidak ternilai harganya dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. la merupakan kitab yang sangat mulia lagi agung, semua orang pasti membutuhkannya. Karena itu, tidak aneh jika ia disebut di mana-mana, namanya pun masyhur di berbagai kalangan, baik orang awam maupun kalangan ilmuwan. Mereka mencurahkan perhatian yang sangat besar kepadanya, sehingga al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahulloh-  berkata dalam Tafsiir al-Qur-aanil ‘Azhiim, III/503: “Para ulama telah menyusun kitab-kitab dzikir yang berkaitan dengan dzikir di waktu malam dan siang hari, seperti an-Nasa-i, al-Ma’mari, dan yang lainnya. Dan kitab yang paling bagus mengenai hal tersebut adalah kitab al-Adzkaar yang ditulis oleh Syaikh Muhyiddin an-Nawawi.”
Walaupun kitab al adzkar  ini memiliki kedudukan yang sangat mulia dan ibukan berarti ia tidak luput dari kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu, inilah kitab yang berupaya
mengoreksi riwayat-riwayat shahih dan dha’if.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.