Fikih Asma’ul Husna

Fikih Asma’ul Husna
Judul asli: Fiqih Al Asma’ Al Husna
Penulis: Syaikh Dr Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr
Fisik: Buku ukuran sedang 24.5x16cm, hardcover, 558 hal
Penerbit: Pustaka Darussunnah
Harga: Rp 105.000
Pemesanan: 0817 250 686

Sesungguhnya memahami nama Allah yang baik (Asma’ul Husna) merupakan pintu ilmu yang mulia, bahkan ini termasuk Al-Fiqh Al-Akbar (fikih yang paling agung) dan paling utama serta pertama kali yang masuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan atasnya, maka Dia akan memberikan kefahaman kepadanya dalam masalah agama.” (Muttafaq Alaih)
Mempelajari ilmu Asma Al Husna merupakan usaha termulia yang dilakukan oleh setiap jiwa dan sebaik-baiknya apa yang diraih oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan akal dan petunjuk. Ilmu ini merupakan fondasi jalan menuju Allah dan jalan masuk yang lurus dalam meraih kecintaan dan keridhaan-Nya serta jalan yang lurus bagi setiap orang yang dicintai dan dipilih-Nya.
Sebagaimana bangunan memiliki fondasi, maka fondasi agama ini adalah iman kepada Allah Ta ‘ala dan kepada nama-nama serta sifat-sifat-Nya. Jika fondasi ini kuat, maka dia akan dapat memikul bangunannya dengan kuat dan kokoh serta selamat dari guncangan dan kerobohan.
Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang meng-hendaki bangunan yang tinggi, maka diharuskan baginya untuk me-guatkan fondasi dan benar-benar memperhatikannya. Karena ketinggian bangunan tergantung pada kokoh dan kuatnya fondasi. Amal dan derajat adalah bangunan, sedangkan fondasinya adalah iman.
Apabila fondasinya kuat, maka dia akan dapat memikul bangunan dan meninggikannya. Apabila roboh sebagian dari bangunan itu, maka mudah untuk memperbaikinya dan jika fondasi tidak kuat, maka tidak akan tinggi bangunannya dan tidak akan kokoh dan jika roboh sebagian dari fondasi, maka akan jatuh bangunannya atau hampir jatuh. Orang bijak akan memiliki target yaitu membenarkan fondasi dan menguatkannya, sedangkan orang jahil adalah orang yang meninggikan bangunan tanpa fondasi, maka tidak berselang lama bangunannya pun akan roboh.
Allah Ta’ala berfirman,
“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(-Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam?” (QS. At-Taubah: 109)
Fondasi bagi bangunan amal seperti kekuatan bagi tubuh manusia. Jika kuat, maka dia dapat membawa badan dengan baik dan menolak segala penyakit. Jika lemah kekuatannya, maka lemah pula dia dalam membawa badannya serta cepat terserang penyakit. Jadikan bangunanmu di atas fondasi iman yang kuat dan jika ada bagian atas atau atapnya yang rusak, maka mudah untuk memperbaikinya daripada kerusakan fondasinya.
Fondasi ini ada dua,
pertama, mengenal Allah, perintah, nama, serta sifat-Nya dengan baik.
Kedua, tunduk dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.
Inilah sekuat-kuatnya fondasi yang dibangun oleh seorang hamba bagi bangunannya dan sesuai dengan kekuatan fondasi itulah ketinggian suatu bangunan yang dia inginkan.”
Oleh karena itu, banyak sekali dalil di dalam Al-Qur’an yang menguatkan fondasi ini, bahkan hampir-hampir semua ayat tidak pernah lepas dari penyebutan nama Allah dan sifat-Nya. Ini semua menunjukkan dengan jelas tentang pentingnya ilmu yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah serta kebutuhan yang mendesak untuk mengenalnya. Bagaimana dia tidak menempati kedudukan yang tinggi ini, sedangkan dia adalah tujuan utama diciptakannya semua manusia.
Tauhid yang merupakan tujuan utama diciptakannya manusia terbagi menjadi dua:
Pertama : Tauhid Ma’rifah dan Itsbat; ini mencakup iman kepada rububiyah, nama, dan sifat-Nya.
Tauhid Iradah dan Thalab; ini adalah tauhid ibadah.
Adapun dalil yang pertama adalah firman Allah,
“Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)
Dan dalil yang kedua firman Allah,
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Yang pertama, Allah menciptakan agar kalian mengenal (Allah) dan yang kedua, Allah menciptakan agar kalian beribadah (kepada-Nya).
Oleh karena itu, tauhid adalah ilmu dan amal. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang perintah untuk mempelajari ilmu yang mulia ini dan untuk memperhatikan pokok yang agung ini.
Allah Ta’ala berfirman,
‘ serta ketahuilah bahwasannya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” IQS. Al-Baqarah: 231)
“Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. .al-Baqarah: 233)
” Ketahuilah , bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 209)
Adapun apa yang disebutkan oleh Allah Ta’ala tentang nama dan sifat-Nya dalam Al-Qur’an, maka sangat banyak dan tidak bisa dibandingkan dengan yang lainnya, karena nama dan sifat Allah merupakan seagung-agungnya dan semulia-mulianya serta seutama-utamanya hal yang disebut dalam Al-Qufan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Di dalam Al-Qur’an, penyebutan tentang nama, sifat, dan perbuatan Allah Ta’ala lebih banyak daripada penyebutan tentang makanan, minuman, serta pernikahan di surga. Ayat-ayat yang berkaitan dengan nama dan sifat  Allah Ta’ala lebih mulia daripada ayat yang berkaitan dengan hari kiamat. Semulia-mulianya ayat di dalam Al-Quran adalah ayat kursi yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau berkata kepada Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu, “Apakah engkau mengetahui, ayat apa yang termulia di dalam Al-Qur’an? Ubay berkata,
“Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya),” (QS. Al-Baqarah: 255), kemudian Rasulullah memegang dada-nya seraya berkata, “Selamat atas ilmu yang engkau miliki, wahai Abu Mundzir.”
Semulia-mulianya surat dalam Al-Quran adalah Ummul Quran (induk Al-Qur’an, yakni surat Al-Fatihah), sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Sa’id bin Al-Mu’alla dalam Shahih Al-Bukhari, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada beliau,”Sesungguhnya tidak diturunkan dalam Taurat atau Injil atau Zabur dan di Al-Quran yang semisal dengannya, dia adalah As-Sab’u Al-Matsaani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al-Quran yang mulia yang diturunkan padaku.  Di dalamnya terdapat penyebutan nama Allah dan sifat-Nya Yang lebih banyak dibanding hari kiamat.
Telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya surat Al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an. Selain itu, disebutkan pula bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan kabar gembira kepada yang membacanya seraya mengatakan, “Saya mencintainya karena itu adalah sifat Allah, maka Allah akan mencintainya.”5 Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa Allah cinta kepada orang yang cinta terhadap sifat-sifat-Nya dan pintu ini amatlah luas.
Ini semuanya membuktikan akan ketinggian ilmu tentang Asma dan Shifat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  dan keagungannya serta banyaknya pelajaran yang bisa dipetik dan bahwasanya dia adalah salah satu fondasi keimanan serta salah satu rukun agama yang di atasnya dibangun kedudukan agama yang tinggi. Bagaimana mungkin perkara syariat akan lurus dan keadaan manusia akan baik tanpa mereka mengenal sang pencipta dan pemberi rezeki mereka dan tanpa mengenal nama-nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang mulia lagi sempurna yang menunjukkan akan kesempurnaan dan kemuliaan serta keagungan-Nya, dan bahwasanya Dia adalah sesembahan yang haq dan tidak ada sesembahan yang haq selain-Nya. Akan tetapi, kebanyakan manusia terlalaikan dengan dunia daripada menyembah-Nya, padahal Allah Ta’ala telah memperingatkan mereka dengan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. ” (QS. Al-Munaf iqun: 9), Allah Ta’ala-lah tempat kita memohon pertolongan dan Dia-lah yang dapat memberi petunjuk kepada setiap kebaikan.
Dalam memahami Asmaul Husna ( nama-nama Alloh yang indah sempurna) dan juga shifat-shifat-Nya yang Agung, terdapat kaidah-kaidah didalamnya., Hal ini telah dibahas secara mendetail oleh para ulama Salafush Shalih yang sekaligus menjadi manhaj mereka. Kesalahan dalam memahami Asma al husna ini dapat berakibat sangat fatal, sebab melakukan kesalahan yang berhubungan dengan Dzat yang maha Mulia, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala .
Dalam buku ini, penulis membahas secara jelas, detail dan sistematis tentang Asma Al husna dan shiat-shifat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dengan menyandarkan setiap bahasannya pada dalil Al Quran, hadits Rosul ynag shahih sesuai manhaj salafush shalih yang benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: