Shahih dan Dha’if Kitab Al Adzkar [2 jilid lengkap]

Shahih dan Dha’if Kitab Al Adzkar [2 jilid lengkap]
Judul asli: Shahih Kitab AL Adzkar Wa Dhaifuhu
Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al Hilali
Fisik: buku ukuran sedang 17x24cm, hardcover
Penerbit: Pustaka Imam Syafii
Harga perjilid:
Rp 120.000
Pemesanan: 0817 250 686

Sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  tidak pernah mewajibkan satu kewajiban hamba-Nya, melainkan Dia menentukan batasan tertentu baginya, kemudian Dia memaafkan orang yang bersangkutan manakala ia ber-udzur (tidak mampu melaksanakannya karena alasan yang dibenarkan syariat), selain dzikir, sebab sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala tidak memberikan batas akhir, dan tidak memaafkan seseorang yang meninggalkannya kecuali terpaksa untuk meninggalkannya,  Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman
“..ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring….a (QS. An-Nisaa’: 103)
Maksudnya, yaitu (berdzikirlah) pada waktu malam dan siang  hari, didarat dan di laut, ketika dalam perjalanan atau di tempat tinggal, di waktu kaya ataupun miskin, waktu sehat atau sakit, di tempat tersembunyi atau di tengah keramaian dan pada setiap kondisi.
lloh Subhanahu Wa Ta’ala  menganjurkan agar para hamba-Nya banyak berdzikir dan bersyukur kepada-Nya, karena Dia-lah yang memberikan berbagai nikmat dan menyempurnakan segala macam pemberian-Nya.
Sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  telah menyiapkan pahala yang besar dan tempat yang indah bagi orang yang berdzikir kepada-Nya, Dia berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.”(QS. Al-Ahzaab: 41)
Karena sesungguhnya dzikir kepada Allah termasuk bentuk taqarrub (ibadah yang diamalkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ) yang paling mulia dan ibadah yang paling afdhal. Orang yang menempuhnya berarti ia berjalan di atas jalan keamanan dan ketenteraman, serta faedah yang diraihnya tidak dapat diungkapkan dengan lisan dan tidak dapat diketahui secara keseluruhan oleh manusia.
Seorang hamba tidaklah termasuk hamba yang banyak berdzikir kepada Allah hingga ia mengamalkan dzikir-dzikir yang ma-tsurat (mempunyai dalil yang shahih) secara kontinu dari pengajar kebaikan, imam orang-orang bertakwa, yaitu Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Seperti dzikir-dzikir pada waktu pagi dan petang hari serta pada permulaan malam hari, ketika berbaring di tempat tidur, ketika bangun tidur, dan di akhir shalat; dzikir-dzikir tertentu seperti ketika hendak makan, minum, mengenakan dan melepas pakaian, berjima’ (bersetubuh), masuk masjid, masuk dan keluar WC, turun hujan, mendengar petir, mehhat hilal (bulan sabit pada awal bulan Qamariyah), dan seterusnya dan segala macam dzikir yang mencakup seluruh perbuatan seorang hamba, dan mengisi setiap keadaannya, serta memberi manfaat terhadap umurnya. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa agama yang lurus ini tidak meninggalkan sedikit pun dari kehidupan manusia, baik yang kecil maupun yang besar, kecuah semuanya ada aturannya.
Sepatutnya bagi seorang hamba untuk selalu mengamalkan dzikir-dzikir yang ma-tsur, karena seluruh ibadah harus berdasarkan dalil yang jelas, baik dari al-Qur’an maupun dari hadits yang shahih, juga berdasarkan ittiba’ (mencontoh Rasulullah), bukan berdasarkan nafsu dan ibtida’ (mengerjakan ibadah tanpa dalil atau menambahkannya), dan hendaknya merasa cukup dan  puas dengan apa yang didapatkan dari orang yang merupakan hujjah Allah (yaitu Rasulullah ) atas sekalian makhluk, karena dialah yang lebih mengetahui cara men-taqdis-kan Rabbnya, memuliakan-Nya, dan ia memberitahukan bentuk pujian serta sanjungan kepada-Nya yang merupakan milik-Nya dan bukan milik selain-Nya.
Dzikir-dzikir Nabi yang shahih adalah hal yang paling utama untuk dipilih lalu diamalkan, karena padanya terdapat dambaan tertinggi yang sebenarnya; puncak cita-cita yang mulia, karena di dalamnya terdapat tauhid yang murni, ibadah yang disyari’atkan, cinta yang jujur terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh kaum Muslimin. Konsisten dengan lafazh dan cara tertentu merupakan hal yang dimaksudkan oleh syari’at, sedangkan dzikir-dzikir dan do’a-doa selainnya terkadang haram atau syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia.

Tidak diperbolehkan bagi seorang pun untuk mensyari’atkan satu bentuk dzikir atau do’a selain yang memang telah disunnahkan, lalu dijadikannya sebagai ibadah rutin yang diamalkan oleh orang lain, karena hal ini merupakan ibtida’ (perbuatan bid’ah) dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah dengannya. Oleh sebab itu, hizib (salah satu bentuk dzikir) dari sebagian syaikh (guru), matsurat-matsurat mereka, serta seluruh wirid-wirid tarekat ahli Tasawwuf, tidak ada hakikat dan pengaruhnya sedikit pun dalam agama Allah. Tidak ada yang cenderung kepadanya lalu meninggalkan yang matsur dan shahih, melainkan orang bodoh, lalai, dan melewati batas, sementara ia berprasangka bahwa ia telah berbuat sesuatu yang sempurna untuk dirinya, utama, dan yang terbagus menurut kesepakatan kaum Muslimin.
Perhatian para ulama senantiasa terus menerus dalam memperhatikan bab yang baik lagi mulia dari sekian bab Sunnah yang harum lagi suci ini, baik mengumpulkan maupun menyeleksinya, maka dari itu terbitlah karya-karya yang mulia lagi menyenangkan.
Di antara ulama yang memiliki andil yang sangat besar dalam hal ini adalah Imam an-Nawawi -rahimahulloh-  yang menyusun kitab al-Adzkaar. Kitab yang paling bagus yang  dalam hal ini (masalah dzikir), tidak ternilai harganya dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. la merupakan kitab yang sangat mulia lagi agung, semua orang pasti membutuhkannya. Karena itu, tidak aneh jika ia disebut di mana-mana, namanya pun masyhur di berbagai kalangan, baik orang awam maupun kalangan ilmuwan. Mereka mencurahkan perhatian yang sangat besar kepadanya, sehingga al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahulloh-  berkata dalam Tafsiir al-Qur-aanil ‘Azhiim, III/503: “Para ulama telah menyusun kitab-kitab dzikir yang berkaitan dengan dzikir di waktu malam dan siang hari, seperti an-Nasa-i, al-Ma’mari, dan yang lainnya. Dan kitab yang paling bagus mengenai hal tersebut adalah kitab al-Adzkaar yang ditulis oleh Syaikh Muhyiddin an-Nawawi.”
Walaupun kitab al adzkar  ini memiliki kedudukan yang sangat mulia dan ibukan berarti ia tidak luput dari kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu, inilah kitab yang berupaya
mengoreksi riwayat-riwayat shahih dan dha’if.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: