Arsip

Tag Archives: Pustaka Sahifa

Meluruskan Sejarah Menguak Tabir Fitnah
Judul asli: Al Awashim min Al Qawashim fi Tahqiq Mawaqif Ash Shahabah ba’da wafat An nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam-
Penulis: Imam Al Qodhi Abu bakar Ibnul Arabi Al maliki -rahimahulloh-
Fisik: buku ukuran sedang p=24 cm, hardcover, 406 hal
Penerbit: Pustaka Sahifa
Harga: Rp 85.000,-
Pemesanan: 0817250686

Sebuah nama yang telah membuat buram sejarah Islam, Ibnu Saba’, seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam, dengan tujuan untuk merusak Islam dari dalam, sebagaimana agama Nasrani juga pernah disusupi oleh seorang Yahudi yang pura-pura masuk Nasrani. Laki-laki terlaknat ini bergerak dalam kegelapan, menghimpun orang-orang munafik dan orang-orang dungu yang ber-baur di tengah kaum Muslimin. Mereka inilah yang menyulut fitnah dan pemberontakan kepada khalifah Utsman bin Affan -Rodliallahu Anhu-  bahkan berhasil membunuh beliau secara zhalim dan keji. Dan yang lancang membunuh beliau adalah si Yahudi itu, yang dikenal dengan “kematian hitam”.
Dalam kekisruhan yang terjadi antara para sahabat besar: Ali bin Abi Thalib, Aisyah, az-Zubair bin al-Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah  -Rodliallahu Anhum-  si Yahudi dan kelompoknya itu pulalah yang mengobarkan peperangan di antara mereka. Begitu pula dalam benturan antara khalifah Ali -Rodliallahu Anhu-  dan Mu’awiyah -Rodliallahu Anhu-  yang menewaskan banyak kaum Muslimin, orang durjana itu dan para pengikutnya, sekali lagi  berada di balik peristiwa itu. Semua Itu adalah kehendak Alloh Subhanahu Wa Ta’ala , untuk suatu hikmah yang hanya diketahui oleh-Nya. Agama Nasrani berhasil diganti dan diobrak-abrik, tetapi terhadap Islam, hanya mampu memicu munculnya golongan-golongan sempalan dan sesat. Kelompok sempalan pertama dalam Islam adalah khawarij, dan salah satunya adalah golongan Syi’ah Rafidhah; keduanya tidak lepas dari andil  si Yahudi hitam tersebut.
Ini adalah sebagian kecil dari fitnah yang terjadi di tengah generasi Islam terbaik itu, ditambah lagi dengan kesimpangsiuran yang disebabkan oleh penulisan sejarah oleh orang-orang yang tidakbertanggung jawab.
Buku ini pada dasarnya, meluruskan catatan sejarah tentang pertikaian dan fitnah yang telah terjadi, ssejak Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam wafat hingga Masa Bani Umayyah.
Buku ini ditulis oleh seorang ulama dan imam besar kaum Muslimin untuk menjelaskan sifat-sifat kemuliaan yang dimiliki oleh sahabat-sahabat Rasulullah  dan mengikis apa yang disisipkan ( berupa kebohongan)  kepada mereka dan kepada para tabi’in yang membantu dan mengikuti mereka dengan baik. Buku ini layak untuk menjadi sebuah teriakan kebenaran yang membangunkan Muslimin sehmgga dia melek terhadap racun yang disusupkan oleh orang-orang yang membenci dan memusuhi para sahabat -Rodliallahu Anhu- , sehingga muslimin bisa menjadikannya sebagai contoh bagi racun-racun lainnya sehingga para muslimin yang diberi taufik kepada kebaikan dari mereka bisa fokus mengkaji hakikat sejarah Islam dan menyingkap sifat-sifat terpuji pada orang-orangnya. Maka mereka mengetahui bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  telah membalas mereka karenanya dengan mukjizat-mukjizat yang terwujud sempurna di tangan mereka dan orang-orang yang mendukung mereka dalam mengadakan perubahan terbesar yang diketahui oleh sejarah kemanusiaan. Seandainya potret para sahabat dan tabi’in seperti yang digambarkan oleh orang-orang yang memusuhi dan membenci mereka, tentunya tidak masuk akal kalau mereka bisa merealisasikan kemenangan-kemenangan itu dan umat manusia merespon dakwah mereka dengan masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong.
AI-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi Al maliki -rahimahulloh- , penulis al-Awashim min al-Qawashim ini adalah salah seorang imam kaum Muslimin. Para fuqaha madzhab Imam Malik menganggapnya sebagai salah seorang imam mereka, yang pendapat -pendapatnya menjadi teladan bagi mereka. Beliau adalah salah seorang guru dari Al Qodhi qadhi iyadh -rahimahulloh- , penults buku asy-Syifa fi at-Ta’rif bi Huquq al lMusthofa, juga salah seorang syaikh Ibnu Rusyd -rahimahulloh-  seorang ulama dan nhli fikih, ayah dari Abu al-Walid.
Syaikh Shiddiq Hasan Khan dalam At taj Al Mukallal 280-308 berkata,” Dia Imam Ibnul Al Arabi -rahimahulloh- ( beliau -rahimahulloh-  bukan Ibnu Arabi , penulis futuhat makiyyah gembong sufi sesat  – pent) adalah seorang imam dalam ushul dan furu’, menyimak dan belajar fikih dan ushul, menduduki kursi nasihat dan tafsir, menyusun banyak karya tulis dalam berbagai disiplin ilmu, tegus dalam beramar ma’ruf nahi munkar sehingga dia di teror, karenanya berakibat hilangnya buku-buku dan hartanya,namun beliau menghadapi itu dengan kesabaran.”
Syaikh Al Allamah Ahmad bin Muhammad yang lebih dikenal dengan Al Muqri berkata dalam kitab nya : nafh Ath Thib min Ghuhni Al Andalus Ar rathib, ” Beliau adalah tokoh utama, selalu berpakaian suci, berilmu luas, kecerdikannya melupakan orang akan kecerdikan ilyas, meninggalkan taqlid terhadap qiyas, menarik hukum furu’ dari ushul, dalam islam dia lebih tajam daripada ujung tombak.”
Bukunya al-Awashim min al-Qawashim adalah salah satu buku terbaiknya. Beliau menulisnya tahun 536 H, pada saat beliau berada dalam fase kernatangan yang sempurna setelah kota-kota besar dibanjiri oleh karya-karyanya dan murid-muridnya yang menjadi para imam yang diteladani  di masanya.

Iklan

Fathul Majid: Penjelasan Lengkap Kitab Tauhid
Penulis: Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusyaikh -rahimahullah-
Fisik: buku ukuran sedang, hardcover, 1280 hal
Penerbit: Pustaka Sahifa
Harga: Rp 189.000,-
Pemesanan: 0817 250 686

Tauhid menjadi perkara yang paling agung dalam agama ini karena tauhid merupakan tujuan penciptaan jin dan manusia. Hal ini sebagaimana yang Alloh Azza wa Jalla  firmankan:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat : 56)
Tauhid merupakan tujuan da’wah seluruh Nabi dan Rasul yang Allah Azza Wa Jalla utus. Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman,”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut (sesembahan-sesembahan selain Allah) itu’.” (An-Nahl : 36)
Dengan tauhid yang sempurna seseorang akan meraih kebahagiaan hidup di dunia dengan selamat dari berbagai macam kesesatan, dan akan meraih kebahagiaan di akhirat dengan rasa aman dari berbagai ketakutan dan adzab neraka. Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman,”Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka . itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am -.82)
Dengan tauhid suatu kaum akan diberi kekuasaan, dikokohkan agamanya, dan dikaruniai kehidupan yang aman di muka bumi ini. Allah berfirman:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (An-Nur: 55)
Itulah di antara keutamaan tauhid, yang mana tidak akan mungkin seseorang bisa kokoh di atas tauhid kecuali dengan  mempelajarinya, juga memahami secara rinci bentuk-bentuk kesyirikan, baik berupa jimat-jimat, perdukunan, sihir, klenik dan yang lainnya, kemudian menjauhkan diri dari perkara-perkara tersebut sejauh-jauhnya.
Inilah terjemah dari kitab Fathul majid Syarah Kitab At Tauhid edisi lengkap, Buku ini adalah sebuah buku induk pembahasan tentang tauhid, yang memuat enam unsur penting:

  1. Matan lengkap Kitab at-Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah Ala al-Abid, karya Imam al-Mujaddid, Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi -rahimahullah- , Syaikhul Islam di zamannya, yang dilengkapi dengan harakat.
  2. Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, karya asy-Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Hasan Alu asy-Syaikh -rahimahullah-
  3. Diberikan ta’liq dan hasyiyah (komentar dan tambahan penjelasan) oleh Syaikh Hamid al-Faqi, di mana sebagian besar dari ta’liq beliau tersebut, beliau ambil dari Qurrah Uyun al-Muwahhidin, karya penulis Fath al-Majid sendiri, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab -rahimahullah-
  4. Ta’liq ini kemudian dimuraja’ah (dikaji ulang) oleh Imam al-Allamah Ibnu Baz -rahimahullah- , dan terhadap sejumlah masalah penting, beliau memberikan koreksi dan komentar yang sangat urgen.
  5. Hadits-hadits dalam Kitab Tauhid di-takhrij dengan berpegang pada banyak sumber
  6. Buku ini dilengkapi dengan risalah Takhrij Ahadits Muntaqadah Fi Kitab at-Tauhid, karya Syaikh Furaih bin Shalih al-Bahlal, yang merupakan takhrij pembelaan atas sejumlah hadits-hadits yang dipermasalahkan oleh sebagian kalangan dalam Kitab At Tauhid
  7. Buku ini di lengkapi pula dengan Daftar Istilah flmiah, lengkap dengan makna dan definisinya.
  8. Dan Biografi Singkat Imam Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah-

Buku Induk Akidah Islam
Judul asli: Syarah Aqidah Al Washithiyyah Li Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Penulis: Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -rahimahulloh-
Fisik: buku ukuran sedang (p=24cm), hardcover, 930 hal
Penerbit: Pustaka Sahifa [cetakan dan cover baru]
Harga: Rp 130.000,-
Pemesanan: 0817 250 686

Aqidah yang selamat adalah salah satu syarat diterimanya amalan. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman, “Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan seesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. An Nahl: 97).
Kebalikan dari hal itu, aqidah yang rusak dapat menggugurkan (pahala) semua amalan. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman, “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “]ika engkau mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentu-lah engkau termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Az Zumar: 65).
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al An’am: 88).
Aqidah yang rusak oleh kesyirikan menghalangi seseorang mendapatkan surga serta ampunan. Bahkan, mengantarkan seseorang kepada azab yang kekal di dalam Neraka.
Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. An Nisaa’: 48).
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga dan tempatnya adalah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” (Qs. Al Maidah: 72).
Aqidah yang rusak juga menghalalkan darah pemiliknya untuk ditumpahkan serta menjadikan harta yang dimilikinya halal untuk diambil. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman, “Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (Qs. Al Anfaal: 39).
“Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian” (Qs. At-Taubah: 5).
Selanjutnya, aqidah yang selamat memberi pengaruh yang baik terhadap hati dan tingkah laku dalam bermasyarakat serta peradaban.
Pada zaman Nabi  ada dua kelompok yang membangun masjid. Satu kelompok membangun masjidnya dengan niat yang benar dan berada di atas aqidah yang murni kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala . Adapun kelompok yang satunya membangun masjidnya untuk tujuan yang tidak baik serta di atas aqidah yang rusak. Maka Allah  memerintah Nabi-Nya untuk shalat di masjid yang dibangun di atas asas ketakwaan, dan Allah melarangnya untuk shalat di masjid yang dibangun di atas asas kekafiran serta untuk tujuan-tujuan yang buruk.
Allah berfirman,
“(Dan di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran, dan untuk memecah belah orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah engkau shalat di dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan di atas dasar takwa (masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut engkau shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan, Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka, apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh. Lain bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahannam? Sungguh, Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Qs. At Taubah: 107-109).
Inilah terjemah dari kitab : Syarah Aqidah Al Washithiyyah Li Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, disyarah oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -rahimahulloh- . yang membahas Aqidah semua para Rosul Alloh, Aqaidah yang diwariskan Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam kepada para murid-nya (yakni Shohabat – Rodliallahu Anhum-), diwariskan lagi kepada para murid Shohabat – Rodliallahu Anhum- ( yakni Tabi’in -rahimahumulloh-), diwariskan lagi kepada murid Tabi’in ( yakni Tabiut Tabiin -rahimahumulloh-), dan sampai kepada kita ilmu Aqidah islam yang Shahih ini, melalui warisan para imam, ulama yang mengikuti para pendahulunya dengan benar.
Sebuah buku induk yang membahas secara detail Aqidah Islam, terutama dalam masalah:
Tauhid Asma’ dan Shifat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, Syafaat Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,Qodha dan Qodar, Ahlul bait Rosululloh,  Shahabat nabi -Rodliallahu Anhum- ,Karamah Wali, Bid’ah, Dan lainnya. Betapa banyak Firqoh dalam Islam, mereka terjatuh dalam kesesatan karena salah dalam memahami Aqidah Asma dan Shifat Alloh ini.
Pastikan !!,  anda pelajari dan faham betul Aqidah Asma dan Shifat Alloh yang Shahih ini, yang bisa menjadi tuntutan bagi  anda utk selamat dunia dan akherat.

Tafsir Al Qur’an
Judul asli: Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan
Penulis: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di -rahimahulloh-
Fisik: Buku ukuran sedang p= 24cm, hardcover
Penerbit: Pustaka Sahifa
Harga: baru cetak 3 jilid dengan rincian :
jilid 1 Rp 95.000, Jilid 2 Rp 90.000, Jilid 3 Rp 97.000
Pemesanan: 0817 250 686

Allah menurunkan Al Qur’an  kepada NabiNya, Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam-  dengan bahasa Arab yang jelas, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril alaihissalam). Ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syu’ara: 192-195).
Lalu beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam-  menyampaikan al-Qur’an itu kepada manusia dengan penyampaian yang benar dan tidaklah Allah mewafatkan beliau kecuali setelah beliau telah menyampaikan dan menjelaskan segala apa yang diturunkan kepadanya dalam kitab tersebut sebagaimana firmanNya,
” Dan Kami turunkan kepadamu ( wahai Muhammad) Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [ An Nahl : 44]
” Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” [An Nahl 64]
Imam Al Mufassir Ibnu Jarir Ath Thabari -rahimahulloh-  berkata dalam menafsirkan ayat ini “Allah yang tinggi penyebutan-Nya berfirman kepada NabiNya, Muhammad , dan tidaklah Kami turunkan kepadamu kitab Kami, dan Kami utus kamu sebagai Rasul kepada makhluk Kami kecuali hanya agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan padanya dari agama Allah”.
Dan telah jelas sekali sesuatu yang menunjukkan bahwasanya para sahabat -Rodliallahu Anhum-  telah menerima dari Rasulullah tafsiran al-Qur’an, di mana seseorang dari mereka apabila mempelajari sepuluh ayat darinya, ia tidak akan berpindah kepada ayat lain kecuali setelah memahami maknanya dan mengamalkannya.
Abu Abdurrahman as-Sulami -rahimahulloh- berkata [ia merupakan pembesar Tabi’in], “Telah meriwayatkan kepada kami orang-orang yang telah membacakan kepada kami bahwasanya mereka meminta agar dibacakan al-Qur’an oleh Nabi dan bila mereka mempelajari sepuluh ayat mereka tidak akan meninggalkannya hingga mereka mengamalkan isinya maka kami pun mempelajari al-Qur’an dan mengamalkannya secara keseluruhan.”
Dan para sahabat -Rodliallahu Anhum-  itu bila ada suatu kemusykilan/ketidakfahaman yang mereka dapatkan, mereka bertanya kepada Nabi , seperti ketika turun firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  ,
“Orang-orang yang  beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman.”   (Al-An’am: 82)
Maka para sahabat Rasulullah berkata, “Siapakah di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?” Beliau bersabda,”Tidaklah seperti apa yang kalian katakan, ‘Dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman ‘maksudnya adalah dengan kesyirikan.” [ Al Bukhari no 3360 dan Muslim 2462]
Kemudian yang menjelaskan dan menafsirkannya setelah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- yang merupakan sebaik-baik manusia dalam penjelasan-nya dan paling jujur keimanannya dan paling dalam keilmuannya adalah para sahabat (yaitu orang-orang yang dengan mereka tegak-lah al-Qur’an itu, dan dengannya mereka bergerak, dengan mereka al-Qur’an berbicara, dan dengannya mereka berkata, orang-orang yang dianugerahkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  keilmuan dan hikmah yang merupakan keistimewaan mereka terhadap seluruh pengikut para Nabi.
Mereka itulah para sahabatnya -Rodliallahu Anhum- , yang dipilih oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  di antara seluruh makhluk agar menemani Nabi-Nya  selama dua puluh tiga tahun, dan al-Qur’an turun kepada mereka dengan bahasa mereka sendiri yang mereka hidup dengannya maka mereka membelanya dan mengamalkannya.
Dan ahli tafsir yang paling terkenal di antara mereka adalah para khalifah ar-Rasyidun, Ubay bin. Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin az-Zubair -Rodliallahu Anhum–

Dan yang paling terkenal riwayatnya dalam tafsir adalah Abdullah bin Mas’ud -Rodliallahu Anhu-  yang berkata tentang dirinya, “Demi Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain diri-Nya, tidaklah satu surat yang diturunkan dari kitabullah, kecuali saya yang paling tahu di mana ia diturunkan, dan tidaklah satu ayat diturunkan dari kitabullah, kecuali saya paling tahu tentang pembahasan yang diturunkan, dan apabila saya mengetahui seseorang yang lebih menge-tahui dariku tentang kitabullah di mana unta mampu sampai kepa-danya, pastilah saya akan menungganginya kepadanya.”
Dan Abdullah bin Abbas -Rodliallahu Anhu- adalah ahli tafsir al-Qur’an yang telah didoakan oleh Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam-  seraya berkata,
“Ya Allah! pahamkanlah ia dalam agama, dan ajarkanlah ia tafsir”
Ibnu Mas’ud -Rodliallahu Anhu- berkata tentangnya, “Sebaik-baik ahli tafsir al-Qur’an adalah Ibnu Abbas .”
Kemudian tafsir ini setelah para sahabat dilanjutkan oleh para Tabi’in, khususnya para sahabat Abdullah bin Abbas -Rodliallahu Anhu-  di Makkah seperti Mujahid, Said bin Jabir dan semisal mereka -rahimahumulloh- . Mujahid berkata, “Saya ajukan sebuah rnushaf kepada Ibnu Abbas  dengan tiga kali pengajuan dari pembukaannya hingga penutupnya dan saya menghentikan pada setiap ayat darinya lalu saya menanyakan tentang ayat itu kepadanya”. Oleh karena itu, ats-Tsauri berkata, ‘Apabila kamu mendapatkan tafsir dari Mujahid, maka cukuplah bagimu.”
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berkata, “Oleh karena itulah yang bersandar kepada tafsirnya adalah asy-Syafi’i dan Bukhari serta selain mereka berdua dari para ulama, demikian juga Imam Ahmad dan lain-lainnya dari orang-orang yang mengarang tafsir selalu mengulang-ulang jalan dari Mujahid lebih banyak dari jalan selainnya.”
Demikian juga para sahabat Abdullah bin Mas’ud  -Rodliallahu Anhu- seperti Alqamah, Masruq dan semisal mereka -rahimahumulloh- , Ibnu Mas’ud  berkata, “Tidaklah saya membaca sesuatu dan tidak pula saya mengetahui-nya kecuali Alqamah membacanya dan mengetahuinya.”
Dan al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahulloh- memiliki perincian yang memadai yang tidak mungkin dapat ditinggalkan oleh seorang yang membaca buku-buku tafsir agar mengetahui isnad-isnad yang paling populer yang diriwayatkan dari para Tabi’in dan orang-orang setelahnya, beliau menjelaskan dalamnya kondisi orang yang meriwayatkan tafsir dari para Tabi’in dan orang-orang setelahnya.
Maksudnya adalah kita dapat mengetahui bahwasanya para sahabat  dan Tabi’in telah menafsirkan al-Qur’an, mereka telah menjelaskan lafazh beserta makna-maknanya, maka kewajiban kita adalah mereferensikan perkataan mereka apabila kita tidak mendapatkan suatu tafsir dari al-Qur’an atau Sunnah. Adapun perselisihan yang terjadi di antara mereka dalam hal ini sangat sedikit sekali, bahkan jarang terjadi, dan sebagian besar perselisihan yang ada di antara mereka itu adalah perselisihan bentuk dan bukan perselisihan yang saling bertentangan, hal ini sebagaimana disebutkan dan dijelaskan oleh syaikh Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh-  pada “Muqaddimah at-Tafsir”.
Kemudian para ulama memfokuskan perhatiannya kepada kompilasi agar dapat mengumpulkan tafsir-tafsir para sahabat  adapun para Tabi’in yang bersandar kepada mereka seperti Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan Abd bin Humad. Ibnu Hajar berkata, “Tafsir-tafsir yang empat ini sedikit sekali ada sesuatu yang menyimpang dalam tafsir yang marfu’ dan mauquf pada para sahabat  dan maqthu’ dari para Tabi’in.”
Kemudian berturut-turutlah setelah itu para ulama mengarang tafsir dengan perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka dalam madzhab-madzhab mereka, akidah-akidah mereka, dan perhatian ilmiah mereka. Dan di antara mereka yang mengarang dalam bidang itu adalah Abu Muhammad bin al-Husain al-Baghawi yang meninggal pada tahun 516 H, Abu al-Faraj Abdurrahman bin al-Jauzi yang meninggal pada tahun 596 H, Abu Abdullah Muhammad bin Umar ar-Razi yang meninggal pada tahun 606 H, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi yang meninggal pada tahun 671 H, Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf bin Hayyan an-Nahwi al-Andalusi yang meninggal pada tahun 745 H, al-Hafizh Imaduddin Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir yang meninggal pada tahun 774 H, Abdurrahman ats-Tsa’alabi yang meninggal pada tahun 876 H, Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi yang meninggal pada tahun 911 H, Muhammad bin Ali asy-Syaukani yang meninggal pada tahun 1250 H, Mahmud Syihabuddin al-Alusi yang meninggal pada tahun 1270 H, Muhammad Jamaluddin al-Qasimi yang meninggal pada tahun 1332 H, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni asy-Syinqithi yang meninggal pada tahun 1393 H, dan lain sebagainya dari para ulama kaum muslimin yang telah menulis dalam ilmu tafsir.

Dan di antara karangan-karangan dalam bidang tafsir yang diakui dan dipuji oleh para ulama pada zaman sekarang ini, memperoleh ketenaran yang begitu luas dan ditakdirkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mendapatkan tempat yang cukup baik dalam hati kaum muslimin yaitu tafsir syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di yang meninggal pada tahun 1376 H, hal ini disebabkan karena keistimewaan bukunya tersebut dalam beberapa hal:
Pertama: Kesungguhan penulis dalam membuat tafsirannya ringkas hanya sebatas makna global, di mana mayoritas penafsir al-Qur’an itu tidak lepas membahas secara panjang lebar bahkan hingga menyimpang dari topik tafsirannya dari kitabullah, atau mereka membatasi diri membahas makna-makna bahasa atau fiqhiyah saja, maka beliau menghendaki dalam tafsirannya itu untuk membahas makna yang dimaksudkan oleh ayat sedangkan lafazhnya hanya sebagai jembatan baginya agar manusia dapat mengetahui makna firman Allah hingga mereka dapat mengambil petunjuk dari pengetahuan tentangnya, dan berakhlak dengan akhlaknya dan adab-adabnya dengan memakai metode yang paling mendekati.
Kedua: Pilihan-pilihan syaikh yang dihasilkan oleh kecerdikan akalnya, kejernihan hatinya, kecepatan pikirannya terhadap perkataan-perkataan para salaf dari para sahabat ,para tabi’in dan para ulama umat yang disebutkan dalam tafsir, sehingga beliau seolah-olah mengumpulkan perkataan dan pendapat yang muncul dalam tafsir makna ayat kemudian beliau mengungkapkannya dengan gaya bahasa yang telah diketahui.
Ketiga: Tafsir beliau diistimewakan juga dengan kata-katanya yang sederhana dan penjelasannya yang mudah dimengerti, yang tidak dipaksa-paksakan dan tidak ruwet, juga tidak bertele-tele dan memanjang-manjangkan, yaitu dengan suatu gaya yang dapat di-pahami oleh orang yang berilmu maupun yang tidak.
Keempat: Penyusunan kalimat yang begitu rapi dan mengaitkan suatu kalimat dengan kalimat yang lain yang sesuai tanpa ada kesusahan dalam merangkai ungkapannya, dan inilah suatu hal yang paling menonjol dari tafsir beliau
Kelima: Buku ini mengandung banyak faedah ilmiah dan pendidikan yang disarikan dari kitabullah yang dijelaskan oleh penulis di sela-sela pembahasannya terhadap tafsir ayat, faedah-faedah itu sangatlah beragam baik dari segi tauhid, fikih, sirah, nasihat-nasihat, akhlak dan lain-lainnya.
Keenam: Inilah keistimewaan yang terpenting adalah terhindarnya buku tafsir ini dari takwil-takwil yang keliru, hawa nafsu, bid’ah, dan Israiliyat.- Pengarangnya bersandar dari teks-teks al-Qur’an dan as-Sunnah, dan beliau juga mengikuti riwayat-riwayat yang disebutkan dari as-Salaf ash-Shalih.
Syaikh al Utsaimin -rahimahulloh- berkata “sesungguhnya tafsir syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di  yang berjudul “Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan”, adalah sebaik-baik tafsir, karena memiliki keistimewaan yang banyak; di antaranya adalah gaya bahasa yang sederhana dan jelas yang dapat langsung dimengerti oleh orang yang berilmu maupun yang bodoh. Keistimewaan lainnya adalah menghindari kalimat-kalimat sisipan dan bertele-tele yang tidak ada manfaatnya kecuali hanya akan membuang-buang waktu pembaca dan membingungkan pikirannya. Yang lainnya adalah menghindari penyebutan perselisihan pendapat kecuali perselisihan vang mendasar yang harus disebutkan, dan yang terakhir ini adalah keistimewaan yang paling penting bagi pembaca budiman hingga pemahamannya hanya terfokus pada satu hal saja. Keistimewaan lain adalah berjalan di atas manhaj salaf pada ayat-ayat sifat yang tidak ada penyimpangan dan tidak ada takwil yang bertentangan dengan maksud Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  dalam firmanNya, dan itulah patokan dalam pengukuhan akidah.
Keistimewaan lain adalah keterincian pengambilan kesimpulan yang ditunjukkan oleh ayat-ayat berupa faedah, hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya, hal ini sangatlah nampak jelas dalam beberapa ayat, seperti ayat wudhu dalam surat al-Maidah, di mana ia me-ngambil kesimpulan darinya sebanyak lima puluh hikmah, sebagai-mana juga dalam kisah Daud dan Sulaiman dalam surat Shad.
Di antara keistimewaannya adalah bahwasanya buku ini adalah buku tafsir dan panduan pendidikan terhadap akhlak-akhlak yang luhur, di mana hal itu nampak jelas pada tafsir suatu ayat dalam surat al-A’raf,
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari omng-orang yang bodoh.” (Al-A’raf: 199).
Untuk itu saya ( Al Utsaimin -rahimahulloh- )  memberi saran kepada orang-orang yang hendak memiliki buku tafsir agar tidak ketinggalan untuk mengoleksi perpustakaannya dengan buku tafsir yang indah ini.”