Arsip

Tag Archives: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh-

Syarah Shahih Al Bukhari [Jilid 1 & 2]
Judul asli: Syarah Shahih Al Bukhari
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahulloh-
Fisik:
buku ukuran sedang 24.5x16cm, hardcover, 1002 hal.
Penerbit: Darus Sunnah
Harga: Rp 180.000/jilid
Pemesanan: 0817 250 686

Tidak diragukan lagi bahwa kitab Shahih Al Bukhari merupakan kitab hadits paling otentik di muka bumi ini. Penulisnya, Imam al-Bukhari -rahimahulloh- , hanya mencantumkan hadits-hadits shahih di dalamnya dengan syarat-syarat periwayatan (transmisi) yang begitu ketat. Bahkan, untuk memantapkan pilihannya beliau tidak segan-segan untuk shalat Istikharah dua rakaat setiap akan mencantumkan haditsnya di kitabnya itu sebagai bukti keseriusan dan pertanggungjawaban beliau di hadapan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala . Maka sangatlah wajar apabila kitab ini dinobatkan sebagai kitab yang kandungannya paling otentik setelah kitab suci al-Quran. Dan, pantaslah kiranya setiap usaha untuk melemahkan kitab ini selalu terbantahkan.
Ribuan hadits terkandung di dalamnya. Beberapa di antaranya sangat sulit bagi orang awam untuk memahami maknanya, lebih-lebih menyelaminya. Padahal, dari awal sampai akhir, kitab ini menyuguhkan banyak sekali pelajaran dan faedah yang sangat berguna bagi kehidupan seorang Muslim dan umat manusia secara keseluruhan. Tidak hanya dalam masalah’aqidah dan ibadah, spektrumnya merambah juga ke masalah etika, sosial, politik, budaya, dan lain sebagainya.Tentunya dalam koridor Sunnah Nabawiyyah.
Melihat pentingnya umat Islam mengetahui dasar-dasar hukum Islam, yakni memahami hadits-hadits Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- yang terkandung dalam kitab Shahih Al bukhari sebagai landasan dalam setiap amal ibadahnya, inilah terjemah kitab Syarah Shahih Al-Bukhari yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh- . Kitab ini merupakan Syarah Shahih Al-Bukhari yang ditulis oleh ulama hadits di era sekarang. Sistematika kitab ini lebih ringkas dari Syarah kitab Shahih Al-Bukhari yang maruf di kalangan umat yakni kitab fathulbari karya imam ibnu hajar -rahimahulloh- .
Syaikh Al utsaimin -rahimahulloh-  mencoba menyajikan syarah hadits -dalam kitab ini-dengan lebih ringkas tanpa mengurangi substansi kandungan hadits, makna, dan faidah yang terkandung di dalamnya, namun memudah-kan pembaca dalam memahami makna hadits. Sistematika dalam mensyarah hadits dimulai dengan menguraikan makna perkata hadits yang dipandang penulis butuh adanya penjelasan, kemudian diikuti dengan syarah hadits secara umum, dan ditutup dengan menyimpul-kan intisari faidah dari hadits, baik yang menyangkut masalah hukum, fikih, dan faidah lainnya.
Di dalam kitab ini, Syiakh Al Utsaimin -rahimahulloh- telah memperlihatkan ungkapan-ungkapannya yang dalam, berbagai komentar yang bermanfaat berikut pilihan kata yang mudah difahami, gaya bahasa yang lugas, dan penjelasan setiap hadits yang tidak terlalu ringkas sehinggal ada yang tertinggal mapun terlalu panjang sehingga membosankan
Ada keistimewaan lain yang dimiliki oleh tulisan beliau -rahimahulloh- ini, yaitu kandungannya yang mencakup berbagai persoalan terkini yang beliau sisipkan di sela-sela penjelasan beliau Rahimahutlah atas berbagai permasalahan kontemporer kepada para muridnya, ditambah lagi dengan hipotesa beliau terhadap berbagai persoalan sekaligus menyampaikan jawabannya.
Demikianlah, kitab ini juga menguraikan beragam permasalahan kontemporer yang beliau cantumkan ketika menguraikan beberapa hadits Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam-  yang ada di dalam kitab Syarah Shahih Al Bukhari yang berharga ini.
Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah juga menukilkan beberapa komentar yang penuh faedah dari sejumlah pensyarah Shahih Al-Bukhari sebelumnya yang paling terkemuka, di samping syarah beliau sendiri. Di antara mereka ialah:
1.    Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah.
2.    Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah
3.    Al-Imam Badruddin Al-Aini Rahimahullah.
4.    Al-Imam Syihabuddin AI-Qasthallani -rahimahulloh-
Beliau memberikan penjelasan sejumlah kata-kata asing yang disebutkan dalam sebuah hadits. Dan sebagaimana kebiasaannya, beliau memberikan defenisi terhadap sejumlah istilah-istilah yang berkaitan dengan masalah fikih, seperti tayammum, al-ghusl (mandi), al-ihshaar dan sebagainya.
Tidak semua hadits yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari beliau syarah, hanya sebagian besar saja, sehingga beliau memberikan faedah yang amat banyak sebagaimana yang menjadi kebiasaannya.

Iklan

Syarah Mumti’: Kajian Fikih Lengkap [Jilid 1]
Judul asli:
Asy-Syarah Al-Mumti’ Ala Zaad Al-Mustaqni’
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh-
Fisik: Buku ukuran sedang 24.5x16cm, Hardcover, 551 hal
Penerbit: Darus Sunnah
Harga: Rp 110.000,-
Pemesanan: 0817 250 686

Pengamalan hukum-hukum syariat Islam terutama berkenaan dengan ibadah amaliah, umat Islam dituntut untuk memahami ilmu fikih, karena dalam ilmu ini segala bentuk ibadah amaliah dibahas secara rinci dengan disertai dalil-dalilnya.
Dalam fikih Islam dikenal ada empat madzhab atau yang lebih dikenal dengan istilah Al-Madzhab Al-Arba’ah, yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Masing-masing penamaan ini dinisbatkan kepada pelopornya, Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syaffi, dan Imam Ahmad.
Kitab Asy-Syarah Al-Mumti’ Ala Zaad Al-Mustaqni’ karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh-  merupakan syarah dari kitab Zad Al-Mustaqni’ Fi Ikhtishar Al-Muqni’ karya Abu Naja Musa bin Ahmad bin Musa Al-Hijawi -rahimahulloh- . Kitab ini menjadi salah satu rujukan kitab fikih bermadzhab Hanbali yang sangat masyhur dan populer di kalangan umat Islam khususnya para penuntut ilmu, sehingga dijadikan salah satu rujukan utama dalam fikih mereka. Perlu diketahui pula oleh kaum muslimin, bahwa dalam madzhab-madzhab lainnya terdapat syarah-syarah rujukan pada madzhab mereka. Seperti madzhab Hanafi dengan kitab Al-Inshaf, madzhab Maliki dengan kitab Al-Mudawwanah Al-Kubra, dan madzhab Syafi’i dengan kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab. Dan kesemuanya itu dalam koridor Ahlussunnah wal Jama’ah.
Sesungguhnya kitab Zaad Al-Mustaqni’ fi Ikhtishar Al-Muqni’ karya Abu Naja Musa bin Ahmad bin Musa Al-Hijawi termasuk kitab yang ringkas dan sangat dalam maknanya. Beliau meringkasnya dari kitab Al-Muqni karya Imam Ibnu Qudamah -rahimahulloh-  dan beliau meringkasnya dalam satu pendapat yang dianggap
sebagai pendapat yang paling kuat menurut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau (Abu Naja) tidak pernah keluar dari pendapat Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahulloh-  dan kemudian berpegang kepada pendapat masyhur dari kalangan para ulama kontemporer kecuali sangat sedikit sekali.
Para pemula penuntut ilmu sangat menyukainya, karena kitab tersebut berdasarkan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal (Hanbali). Bahkan banyak sekali di antara para penuntut ilmu yang menghafalnya di luar kepala.
Syaikh Abdurrahman bin Nasir Sa’di -rahimahulloh-  sangat menganjurkan kepada kita untuk menghafalnya dan beliau mengajarkannya kepada murid-murid beliau, termasuk juga Syaikh Al Utsaimin -rahimahulloh-
Syaikh Al Utsaimin -rahimahulloh- mengajarkan kitab tersebut di masjid jami’ di Unaizah, Saudi. Beliau jelaskan kalimat dan maknanya dan menyebutkan pendapat yang kuat disertai dalil dan alasannya. Para penuntut ilmu sangat memperhatikannya bahkan mencatat dan merekamnya.
Maka dari itu, dalam rangka menambah cakrawala umat Islam khususnya dalam khasanah fikih, dicetak kitab ini dalam edisi terjemahan, Sehingga umat Islam akan semakin memahami betapa agungnya ilmu fikih sebagai dasar dalam pelaksanaan ibadah amaliah yang digali dari sumber utama hukum Islam, yakni Al-Qurxan dan As-Sunnah. Di samping itu untuk memberikan pemahaman betapa pentingnya sikap saling menghargai perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyah, terlebih dalam masalah fiqhiyyah yang sarat dengan perbedaan pendapat selama masih dalam koridor Ilmiyyah Islamiyyah.
Insya Alloh, buku ini dapat menambah pengetahuan bagi para pencari ilmu, da’i, dan kaum muslimin pada umumnya, agar dalam menjalankan aktivitas ibadah selalu berpegang pada dalil yang memang mempunyai sandaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, serta menjauhkan dari praktek ibadah yang tidak bersandar pada dalil yang shahih.