Arsip

Tag Archives: Syaikh Salim bin Ied Al Hilali

Sirah Nabi Muhammad
Judul asli: Al Fushuul fii Siiratir Rasul -Sholallahu Alaihi Wassalam-
Penulis: Imam Ibnu Katsir -rahimahulloh-
Tahqiq: Syaikh Salim bin Ied Al Hilali
Fisik: buku ukuran sedang 17x24cm, hardover,577 hal
Penerbit: Pustaka Imam Syafii
Harga: Rp 120.000,-
Pemesanan: 0817 250 686

Salah satu buku yang wajib dibaca oleh umat Islam adalah buku sirah Nabi, atau dengan istilah lain biografi Nabi Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Alasannya adalah, sirah Nabi memuat segala hal tentang kehidupan Nabi secara runut, mulai dari A sampai Z, sehingga dengan membacanya kita mendapatkan gambaran Islam yang utuh dan lengkap; yang tersaji secara lebih nyata, hidup, fisual, dan mudah dipahami serta diaplikasikan dalam kehidupan. Dengan kata lain, sirah Nabi adalah potret Islam yang hidup dan berjalan.
Tidak sedikit buku sirah yang ditulis oleh para ulama Muslim, yang klasik maupun yang modern, baik yang murni kisah sirah maupun yang dilengkapi dengan pelajaran di balik setiap peristiwa,baik yang singkat padat maupun yang panjang lebar; tiap-tiap buku tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan masmg-masing.
Namun ada hal yang lebih penting dari itu semua, yaitu keautentikan kisah-kisah sirah yang dimuat di dalamnya. Sirah merupakan kumpulan atau kabar di masa lampau yang ditulis setelah peristiwa itu berlalu dan diriwayatkan dari generasi ke generasi, sehingga ada kemungkinan masuknya riwayat-riwayat yang tidak autentik. Oleh karena itu diperlukan kajian terhadap keautentikan setiap riwayatnya la benar-benar hanya mendapatkan riwayat-riwayat yang jelas kedudukannya dan dapat dipertanggung-jawabkan.
Sirab Nabi karya Ibnu Katsir ini  adalah termasuk buku sirah terbaik dibanding buku-buku sirah yang lain, berdasarkan alasan-alasan berikut:
1.    Peenulisnya seorang ahli sejarah
Ibnu Katsir -rahimahulloh- tergolong ulama yang sulit dicari tandingannya, beliau menguasai banyak bidang ilmu pengetahuan. Selain bergelar  muhaddits (ahli hadits), mufassir (ahli tafsir), faqih (ahli fiqih), dan gelar ternama lainnya beliau juga digelari muarrikb alias ahli sejarah. Dalam hal ini, beliau memiliki karya tulis sejarah fenomenal yang muat riwayat-riwayat sejarah urnat manusia dimulai dari manusia pertama yaitu Nabi Adam hingga akhir masa kekhalifahan Islam. Kisah-kisah sejarah itu beliau tuangkan dalam kitabnya :  al-Bidaayah wan Nihaayah. Di dalam kitab tersebut termuat Sirah Nabi Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam-  serta biografi empat orang Khulafaur rasyidin. Namun, perlu diketahui bahwa kitab sirah yang sekarang  ini bukanlah saduran dari kisah yang tercantum dalam kitab tadi. Bukan pula kutipan-kutipan dari kisah-kisah populer. tetapi, kitab ini ditulis secara khusus dan murni kitab sirah.
2.    Penyusunan kitabnya berdasarkan metode muhadditsin
Kitab sirah ini tergolong kitab klasik. Ditulis oleh penulisnya larkan metode penulisan muhadditsin (ahli hadits) yang begitu selektif terhadap berita-berita yang disampaikan. Hal ini dapat dimaklumi, karena penulisnya seorang Muhaddits (ahli hadits) yang ternama. Sebagai seorangahli hadits, Ibnu Katsir menerapkan keahlian ini dalam setiap karyanya, seperti pada kitabnya yangberjudul Tafsiirul Al Qur’anul Adzim yangdikenaldengan Tafsir Ibnu Katsir, salah satu kitab tafsir bil ma’tsur terbaik. Juga pada kitabnya al-Bidaayah wan Nihaayah.
Dalam kitab ini,  beliau selalu merujuk sumber-sumber sejarah dari riwayat-riwayat yang shahih sebagai dalilnya, lalu meramunya menjadi sebuah cerita sejarah yang apik dan tidak kaku dalam penyampaiannya.
Dengan kata lain, dalam Sirah Nabi ini, Ibnu Katsir menempuh metode bil ma’tsur yakni berdasarkan riwayat-riwayat. Meski begitu, beliau juga tidak meremehkan kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh para ulama sebelumnya, seperti ath-Thabari dan lain-lain. Hanya saja, pada kitab sirah ini penulisnya tidak terang-terangan mendedikasikan karyanya ini sebagai kitab shahih. Bagaimanapun juga, metode ini lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode penulisan yang lain.
3.       Hadits-haditsnya telah dl-tahqiq, di-takhrij, dan dtperjelas maknanya
Kitab sirah Nabi ini semakin berbobot dan lengkap dengan tahqiq Syaikh Salim bin ‘led al-Hilali. Di dalam tahqiq-nya, beliau melakukan takhrij terhadap riwayat-riwayat yang dijadikan sumber atau rujukan Ibnu Katsir dalam penulisan kitab sirahnya ini. Selain men-takhrij-nya, Syaikh Salim juga melakukan banyak hal positif terhadap kitab ini, antara lain dengan menyusun kembali bagian-bagian pembahasan dan mengurutkan tema-temanya, menjelaskan kata-kata yang sulit dipahami, mendiskusikan aspek-aspek fiqihnya maupun riwayat-riwayat yang menjadi sumber sejarahnya, serta membuat daftar isi srsuai dengan sistematika penulisan ilmiah yang berlaku.
4.       Adanya tambahan pembahasan mengenai sifat fisik Nabi, keadaan rumah tangga Beliau, dan hukum-hukum yang Allah khususkan bagi Nabi-Nya
Dan, ketiga hal itulah yang menjadi nilai tambah dalam buku mi yang tidak didapatkan pada kitab sirah mana pun. Anda akan dapatkan di akhir pembahasan kitab ini hal-hal yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik Nabi, anak-anaknya, istri-istrinya, pelayan-pelayannya, hingga unta dan kuda beliau. Kemudian disusul dengan pembahasan hal-hal yang menjadi kekhususan Rasulullah , yang tidak dimiliki para Nabi lainnya; seperti diberikan-Nya kemenangan dari musuh-musuh beliau dengan dimasukkan-Nya rasa gentar di hati mereka, seluruh permukaan bumi (tanah) dapat dijadikan tempat shalat dan bersuci, dihalalkan-Nya harta rampasan perang, diberikan hak memberi syafaat pada hari Kiamat, dan diutus kepada seluruh umat manusia, dan masih banyak lagi keistimewaan lain yang hanya dianugerahkan Allah kepada beliau. Pembahasan terakhir ini lalu ditutup dengan hal-hal yang menjadi kekhususan Nabi  yang tidak dimiliki umatnya, mulai dari masalah yang berkaitan dengan iman, bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, warisan, hingga masalah hukum-hukum syari’at yang lain.
Membaca kitab ini, selain mendapatkan uraian kisah Nabi yang dapat dipertanggungjawabkan, akan menambah wawasan kita tentang sosok Nabi kita Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- , secara lebih luas dan mendalam.

Iklan

Shahih dan Dha’if Kitab Al Adzkar [2 jilid lengkap]
Judul asli: Shahih Kitab AL Adzkar Wa Dhaifuhu
Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al Hilali
Fisik: buku ukuran sedang 17x24cm, hardcover
Penerbit: Pustaka Imam Syafii
Harga perjilid:
Rp 120.000
Pemesanan: 0817 250 686

Sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  tidak pernah mewajibkan satu kewajiban hamba-Nya, melainkan Dia menentukan batasan tertentu baginya, kemudian Dia memaafkan orang yang bersangkutan manakala ia ber-udzur (tidak mampu melaksanakannya karena alasan yang dibenarkan syariat), selain dzikir, sebab sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala tidak memberikan batas akhir, dan tidak memaafkan seseorang yang meninggalkannya kecuali terpaksa untuk meninggalkannya,  Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman
“..ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring….a (QS. An-Nisaa’: 103)
Maksudnya, yaitu (berdzikirlah) pada waktu malam dan siang  hari, didarat dan di laut, ketika dalam perjalanan atau di tempat tinggal, di waktu kaya ataupun miskin, waktu sehat atau sakit, di tempat tersembunyi atau di tengah keramaian dan pada setiap kondisi.
lloh Subhanahu Wa Ta’ala  menganjurkan agar para hamba-Nya banyak berdzikir dan bersyukur kepada-Nya, karena Dia-lah yang memberikan berbagai nikmat dan menyempurnakan segala macam pemberian-Nya.
Sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  telah menyiapkan pahala yang besar dan tempat yang indah bagi orang yang berdzikir kepada-Nya, Dia berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.”(QS. Al-Ahzaab: 41)
Karena sesungguhnya dzikir kepada Allah termasuk bentuk taqarrub (ibadah yang diamalkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ) yang paling mulia dan ibadah yang paling afdhal. Orang yang menempuhnya berarti ia berjalan di atas jalan keamanan dan ketenteraman, serta faedah yang diraihnya tidak dapat diungkapkan dengan lisan dan tidak dapat diketahui secara keseluruhan oleh manusia.
Seorang hamba tidaklah termasuk hamba yang banyak berdzikir kepada Allah hingga ia mengamalkan dzikir-dzikir yang ma-tsurat (mempunyai dalil yang shahih) secara kontinu dari pengajar kebaikan, imam orang-orang bertakwa, yaitu Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Seperti dzikir-dzikir pada waktu pagi dan petang hari serta pada permulaan malam hari, ketika berbaring di tempat tidur, ketika bangun tidur, dan di akhir shalat; dzikir-dzikir tertentu seperti ketika hendak makan, minum, mengenakan dan melepas pakaian, berjima’ (bersetubuh), masuk masjid, masuk dan keluar WC, turun hujan, mendengar petir, mehhat hilal (bulan sabit pada awal bulan Qamariyah), dan seterusnya dan segala macam dzikir yang mencakup seluruh perbuatan seorang hamba, dan mengisi setiap keadaannya, serta memberi manfaat terhadap umurnya. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa agama yang lurus ini tidak meninggalkan sedikit pun dari kehidupan manusia, baik yang kecil maupun yang besar, kecuah semuanya ada aturannya.
Sepatutnya bagi seorang hamba untuk selalu mengamalkan dzikir-dzikir yang ma-tsur, karena seluruh ibadah harus berdasarkan dalil yang jelas, baik dari al-Qur’an maupun dari hadits yang shahih, juga berdasarkan ittiba’ (mencontoh Rasulullah), bukan berdasarkan nafsu dan ibtida’ (mengerjakan ibadah tanpa dalil atau menambahkannya), dan hendaknya merasa cukup dan  puas dengan apa yang didapatkan dari orang yang merupakan hujjah Allah (yaitu Rasulullah ) atas sekalian makhluk, karena dialah yang lebih mengetahui cara men-taqdis-kan Rabbnya, memuliakan-Nya, dan ia memberitahukan bentuk pujian serta sanjungan kepada-Nya yang merupakan milik-Nya dan bukan milik selain-Nya.
Dzikir-dzikir Nabi yang shahih adalah hal yang paling utama untuk dipilih lalu diamalkan, karena padanya terdapat dambaan tertinggi yang sebenarnya; puncak cita-cita yang mulia, karena di dalamnya terdapat tauhid yang murni, ibadah yang disyari’atkan, cinta yang jujur terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh kaum Muslimin. Konsisten dengan lafazh dan cara tertentu merupakan hal yang dimaksudkan oleh syari’at, sedangkan dzikir-dzikir dan do’a-doa selainnya terkadang haram atau syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia.

Tidak diperbolehkan bagi seorang pun untuk mensyari’atkan satu bentuk dzikir atau do’a selain yang memang telah disunnahkan, lalu dijadikannya sebagai ibadah rutin yang diamalkan oleh orang lain, karena hal ini merupakan ibtida’ (perbuatan bid’ah) dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah dengannya. Oleh sebab itu, hizib (salah satu bentuk dzikir) dari sebagian syaikh (guru), matsurat-matsurat mereka, serta seluruh wirid-wirid tarekat ahli Tasawwuf, tidak ada hakikat dan pengaruhnya sedikit pun dalam agama Allah. Tidak ada yang cenderung kepadanya lalu meninggalkan yang matsur dan shahih, melainkan orang bodoh, lalai, dan melewati batas, sementara ia berprasangka bahwa ia telah berbuat sesuatu yang sempurna untuk dirinya, utama, dan yang terbagus menurut kesepakatan kaum Muslimin.
Perhatian para ulama senantiasa terus menerus dalam memperhatikan bab yang baik lagi mulia dari sekian bab Sunnah yang harum lagi suci ini, baik mengumpulkan maupun menyeleksinya, maka dari itu terbitlah karya-karya yang mulia lagi menyenangkan.
Di antara ulama yang memiliki andil yang sangat besar dalam hal ini adalah Imam an-Nawawi -rahimahulloh-  yang menyusun kitab al-Adzkaar. Kitab yang paling bagus yang  dalam hal ini (masalah dzikir), tidak ternilai harganya dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. la merupakan kitab yang sangat mulia lagi agung, semua orang pasti membutuhkannya. Karena itu, tidak aneh jika ia disebut di mana-mana, namanya pun masyhur di berbagai kalangan, baik orang awam maupun kalangan ilmuwan. Mereka mencurahkan perhatian yang sangat besar kepadanya, sehingga al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahulloh-  berkata dalam Tafsiir al-Qur-aanil ‘Azhiim, III/503: “Para ulama telah menyusun kitab-kitab dzikir yang berkaitan dengan dzikir di waktu malam dan siang hari, seperti an-Nasa-i, al-Ma’mari, dan yang lainnya. Dan kitab yang paling bagus mengenai hal tersebut adalah kitab al-Adzkaar yang ditulis oleh Syaikh Muhyiddin an-Nawawi.”
Walaupun kitab al adzkar  ini memiliki kedudukan yang sangat mulia dan ibukan berarti ia tidak luput dari kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu, inilah kitab yang berupaya
mengoreksi riwayat-riwayat shahih dan dha’if.

Syarah Riyadhus Shalihin [ 5 jilid Lengkap ]
Ditulis Oleh: Syaikh Salim bin Ied Al Hilali

Buku Syarah Riyadhus Shalihin ini merupakan terjemahan dari kitab aslinya berjudul Bahjatun Nazdziriin syarhi Riyadadhis Shaalihin

yang ditulis oleh Syaikh Salim bin Ied Al Hilali, yang merupakan penjelas dari hadits-hadits yang terkandung dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi -rahimahullah-. Buku Riyashus Shalihin ini adalah sebuah kitab yang memuat berbagai masalah penting agama Islam baik aqidah, manhaj, tauhid, Ibadah maupun akhlaq, yang kemudian disyarah/diperjelas agar mudah dipahami dan diamalkan kandungan-kandungan ilmu yang tercakup didalamnya setelah dipisahkan hadist yang shahih dan dhaif.

Syarah Riyadhus Shalihin [edisi lengkap 5 jilid]
Judul asli : Bahjatun nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin
Penulis :  Syaikh Salim bin Ied Al Hilali
Fisik : buku ukuran besar, hardcover
Penerbit Pustaka Imam Syafii

harga Rp 750.000/set+Box

Pemesanan: 085 292 111 852